Rabu, 01 Juni 2016

Hahaha...

Sudah beberapa bulan terakhir ini, kira-kira semenjak awal tahun 2016 saya mengikuti kelas bahasa Arab intensif di sebuah lembaga dekat rumah. Kebetulan saya sekelas dengan anak-anak yang mayoritas kelahiran 97 alias seumuran mahasiswa angkatan 2015 karena kelas tersebut sebenarnya memang dibentuk sebagai kelas persiapan bagi yang ingin melanjutkan kulah di sana--yang notabene menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Karena teman-teman sekelas saya merupakan bocah-bocah kelahiran 95-97, jadilah saya murid paling sepuh di sana hahaha...

sumber: Google (keyword: belajar)

Bergaul dengan anak-anak tersebut menjadikan saya semakin menyadari kalau tingkat kedewasaan anak-anak atau remaja jaman sekarang sangat berbeda dengan tingkat kedewasaan ketika anak-anak seangkatan saya berusia seumuran mereka. Tingkah polah mereka yang berupa-rupa macamnya kadang membuat saya ingin tertawa, tetapi kadang bikin kesal juga. Mungkin saya lebih banyak dibuat kesal daripada tertawa pffftt... Salah satu hal yang cukup membekas di ingatan saya yaitu ketika mereka membicarakan artis idola mereka, saya seolah-olah sedang mendengarkan orasi perdamaian dunia atau perdebatan menggebu-gebu mengenai konflik di Suriah. HEBOH! Padahal mereka cuma membicarakan tentang penyanyi Kpop X yang sedang terkena skandal tabrak lari, acara singing battle antara penyanyi Y dengan penyanyi Z, aktris A yang baru saja menerima tawaran main drama I, dan sebagainya. Sungguh tema yang kurang penting. Akan tetapi, di sisi lain saya juga dapat memaklumi karena sebagaimana mereka, saya pun pernah berada di usia di mana mengidolakan seseorang adalah bagian dari hidup, semacam prinsip hidup--terlepas dari betapa bodohnya hal itu sekarang terdengar ðŸ˜‚.

Terlepas dari semua itu, saya menikmati waktu-waktu yang saya habiskan bercanda, tertawa, dan menahan kesal karena mereka hehehe...

Kamis, 24 Desember 2015

[Resensi Buku] Perfect Scenario: Ketika Hati Mengkhianati Logika

 
Judul Buku: Perfect Scenario
Format Buku: Buku cetak, soft cover
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 280
 
"Dengar ya, kita harus pacaran!"
"HAH?"
"Mulai detik ini, lo pacar gue. Dan selama itu, lo ngga boleh jalan dengan cowok lain!"
"Eh, kamu kesurupan ya, tiba-tiba ngomong aneh begitu?!"
"Gue sadar seratus persen. Jadi dengar--"
"Sori, aku ngga mau!"
"Heh! Jangan ge-er dulu. Gue sebenarnya juga ngga mau pacaran sama lo. Tapi kali ini, mau ngga mau, kita harus!"

Ajakan kencan ini akan membahagiakan Finda, seandainya ia menyukai Farel. Seandainya Farel bukan duri dalam dagingnya. Seandainya Finda tidak menyukai Niko (teman baik Farel). Dan seandainya Farel tidak sedang berkencan dengan Novi. Tetapi, ajakan kencan jauh dari romantis yang disodorkan Farel ini harus diterima Finda karena mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu membatalkan pernikahan orangtua mereka!
  
 
Ini merupakan pengalaman pertama saya membaca buku Kezia Evi Wiadji. Sebelumnya, nama penulis ini sudah cukup sering saya lihat berseliweran di blog-blog buku favorit saya. Akan tetapi, buku yang dibahas pada saat itu adalah Unbroken Vow. Sayangnya, karena saya sedang tidak begitu tertarik dengan tema-tema seputar pernikahan, apalagi kelihatannya Unbroken Vow bergenre melodrama, saya pun memutuskan untuk pas. Barulah ketika saya melihat nama penulis ini kembali berseliweran di dunia maya melalui buku terbarunya yang bergenre teenlit atau young adult, Perfect Scenario, tanpa berpikir panjang saya langsung mampir ke toko buku online terdekat.
 
Perfect Scenario bercerita tentang dua anak SMA Harapan Bangsa, Finda dan Farel yang merupakan teman sejak kecil dan tinggal bertetanggaan. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di komplek perumahan Finda, Farel yang pada saat itu baru pindah rumah dan menjadi tetangga baru Finda, langsung membuat onar dengan meminjam paksa sepeda baru Finda. Sepeda mini berwarna merah muda yang menjadi hadiah ulang tahunnya pada hari itu. Semenjak perebutan paksa sepeda milih Finda itulah mereka menjadi musuh bebuyutan yang melempar kejailan terhadap satu sama lain dan saling membalas dendam. Semakin lama semakin tidak jelas siapa yang lebih dulu memulai, siapa yang sebenarnya salah, dan siapa biang keroknya. Yang jelas, orang-orang di sekitar mereka kemudian melihat mereka bagaikan Tom and Jerry. Lalu pada suatu hari di sekolah, tiba-tiba saja Farel mencegat Finda yang berniat masuk ke toilet dan mengutarakan rencananya, atau lebih tepatnya memaksakan rencananya agar mereka berpura-pura pacaran. Sebagai musuh bebuyutan, tentu saja Finda menolak. Dibayar pun dia tidak akan sudi menjadi pacar laki-laki iseng tidak berperasaan itu, huh!
 
Akan tetapi, setelah Farel mengutarakan alasan dibalik skenario pacaran tersebut, Finda menjadi goyah. Kedua orang tua mereka akan menikah dan itu berarti Finda dan Farel akan menjadi saudara tiri. Sekedar berpapasan dengan laki-laki sok kegantengan itu setiap hari di sekolah saja sudah membuat kepalanya pusing, apalagi harus menjadi saudara tiri dan tinggal satu rumah? Bisa-bisa ia harus waspada 24 jam menghadapi keusilan-keusilan 'kakak tiri'-nya tersebut. Dengan pertimbangan ini, ditambah dengan bagaimana ia menyaksikan sendiri gelagat Mamanya yang tiba-tiba mengadakan makan malam antara kedua keluarga, keluarga Finda dan keluarga Farel, dengan agak ragu-ragu Finda pun mengamini ajakan Farel. Akan tetapi dengan satu syarat, apabila Farel bisa dengan seenaknya melarang-larang Finda jalan dengan cowok lain demi mendukung kelancaran skenario ini, Farel juga harus berkomitmen terhadap hubungan pura-pura mereka. Farel harus memutuskan pacarnya yang sekarang, Novi dan tidak jalan dengan cewek mana pun selama mereka berdua masih berstatus 'pacaran'.
 
Skenario pacaran mereka pun berjalan canggung, sebagaimana yang sudah diprediksikan Finda. Meskipun enggan, Finda terpaksa menurut untuk diantar-jemput ke sekolah oleh Farel serta menyembunyikan cakarnya dan bersikap manis terhadap Farel di depan kedua orang tua mereka. Meskipun awalnya skenario mereka berjalan dengan cukup lancar, Farel dibuat pusing oleh Novi yang dari awal memang sudah tidak setuju dan merasa rencana Farel ini benar-benar konyol. Novi dan Farel harus break hanya demi menjalankan skenario tidak jelas ciptaan Farel ini. Untuk meredam amarah kekasihnya yang mulai rewel, Farel akhirnya memutuskan untuk tetap menemui Novi diam-diam dan bahkan jalan dengannya tanpa sepengetahuan sang 'pacar'. Sementara itu, Finda juga dibuat bingung oleh kehadiran Niko, teman baik Farel sekaligus laki-laki yang ditaksirnya, yang semakin hari semakin sering muncul dalam kehidupannya, justru setelah ia memutuskan untuk ikut serta dalam skenario Farel. Di satu sisi ia ingin berkomitmen dengan 'hubungan'-nya dengan Farel, tetapi di sisi lain, ia tidak dapat  menolak Niko yang sepertinya mulai menunjukkan ketertarikan padanya.
 
Dengan adanya Novi dan Niko di tengah-tengah hubungan mereka, hubungan pura-pura antara Finda dan Farel menjadi semakin rumit. Mereka sepakat untuk melanjutkan skenario ini, tetapi dengan syarat dicabutnya larangan bagi Finda untuk berjalan dengan siapa pun karena toh selama ini Farel juga ternyata diam-diam tetap menemui Novi. Aturan baru tersebut membuat hubungan antara Finda dan Niko semakin hari semakin mengalami kemajuan. Finda pun mulai yakin bahwa Niko memang benar memiliki perasaan terhadapnya. Sampai akhirnya, libur tahun baru tiba dan keluarga Farel serta keluarga Finda--minus Dino, adik Finda yang sedang ada acara sekolah di luar kota--berlibur ke Lembang. Lagi-lagi demi menyukseskan skenarionya ini, Farel kembali menyeret Finda untuk ikut ke Lembang sehingga Finda terpaksa harus membatalkan rencana tahun baruan bersama sahabatnya, Olly. Di Lembang inilah hubungan Finda dan Farel membaik. Sekembali dari Lembang, Finda menyadari bahwa Farel yang selama ini ia kenal sebagai lelaki usil dan tidak berperasaan bukanlah diri Farel yang seutuhnya. Masih ada sisi-sisi lain dari Farel yang baru ia lihat. Semenjak itu, ia melihat Farel seperti orang yang berbeda dan ia merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali melihatnya. Perasaan apakah itu? Lalu bagaimana dengan Niko?
 
Ledakan kembang api silih berganti di langit, sementara terjadi ledakan di hati keduanya. (hlm. 184)
 
Apakah yang terjadi di Lembang, yang membuat hubungan keduanya menjadi baik? Apakah Finda akhirnya menyukai Farel? Ataukah dia lebih memilih Niko? Dan kalau memang ternyata Farel juga menyukai Finda, apa yang terjadi dengan hubungan antara ia dan Novi? Lalu, bagaimana dengan Mama Finda dan Papa Farel yang berencana menikah? Kalau penasaran, buruan baca Perfect Scenario!
 
Sebagai penikmat buku-buku bergenre young adult, meskipun saya terbiasa menikmati buku-buku remaja karya penulis-penulis luar, saya merasa puas telah membaca buku karya penulis dalam negri satu ini. Saya bahkan berhasil melahapnya dalam kurun waktu kurang dari satu hari. Tema cerita yang ringan, tetapi dikemas dengan plot yang cukup berbobot, membuat saya betah membaca halaman demi halaman tanpa diinterupsi dengan kegiatan membaca buku lainnya. Di bagian awal buku, dialog-dialog witty antara Finda dan Farel sukses membuat saya senyam-senyum sendiri. Benar-benar khas remaja yang suka beradu mulut tentang hal-hal sepele.
 
Untuk ukuran buku teenlit, novel ini sebenarnya cukup tebal. Tetapi tenang saja, plot yang mengalir tidak akan membuat kamu bosan, justru malah bikin penasaran. Karakter-karakter dan adegan-adegan yang dibuat di dalamnya pun manusiawi dan realistis, tidak berlebihan dan tidak terlalu 'sinetron'. Inilah yang saya sukai dari buku ini. Karena tujuan pasarnya adalah remaja, buku ini tidak mencoba menyajikan nilai-nilai yang kurang pantas apabila ditiru oleh para pembacanya. Tidak seperti sinetron-sinetron kekinian yang kerap menggambarkan hedonisme berlebihan, bullying, menjelek-jelekkan orang lain, atau hubungan dengan lawan jenis yang kelewat batas, Perfect Scenario menurut saya merupakan novel yang cukup bersih dari nilai-nilai semacam itu. Walaupun harus saya akui, terdapat satu karakter yang menurut saya cukup 'sinetron', yakni karakter tokoh antagonis, Novi kekasih Farel, yang melampiaskan kecemburuannya terhadap Finda dengan cara-cara yang 'luar biasa'. Meskipun begitu, sebagai remaja dengan emosi yang meluap-luap, karakter Novi masih bisa dikatakan termasuk dalam kategori 'masuk akal' sehingga tidak akan membuat kamu ingin menjambak-jambak rambut karena kehadirannya.
 
Selain menggambarkan kisah romansa segi empat antara Novi - Farel - Finda - Niko, novel ini juga mengangkat kisah pertemanan antara Olly dan Finda, dengan Olly menjadi semacam dokter cinta bagi Finda, serta antara Farel dan Niko yang memperebutkan perempuan yang sama walaupun mereka merupakan teman baik. Kehadiran Olly dan Niko menjadi penyemarak tersendiri bagi novel ini. Wajar saja jika kemudian terdapat pembaca yang lebih menyukai karakter Olly dan/atau Niko dibandingkan dengan karakter-karakter utamanya. Keduanya seolah mengingatkan kita, seberat apapun masalah yang kita hadapi, teman sejati tidak akan pernah pergi. Apalagi untuk remaja, yang cara berpikir dan cara berkomunikasinya berbeda dengan orang dewasa, kehadiran teman merupakan sesuatu yang sangat berarti.
 
Karena saking asyiknya dibuai oleh plot dan karakter-karakternya, saya hampir tidak memiliki komplain untuk buku ini, baik dari segi penggunaan bahasa, maupun typo yang nyaris tidak ada--entah memang tidak ada atau karena saya terlalu asyik mengikuti ceritanya, entahlah. Nyaris tidak ada typo, kecuali untuk satu typo di halaman 234 di bagian akhir bab 25. Kalimat yang belum selesai di bagian akhir bab 25, kemudian di halaman selanjutnya langsung disambung oleh awal bab 26 sehingga kita tidak bisa mengetahui apa maksud dari kalimat terakhir di bab 25 tersebut.
 
Terlepas dari typo yang bersifat minor itu, Perfect Scenario ini benar-benar buku yang menghibur :)
 
Selamat membaca!

Minggu, 20 Desember 2015

Indonesia Readers Festival 2015: Percobaan Perdana Datang ke IRF

Tanggal 5-6 Desember kemarin, Goodreads Indonesia mengadakan Indonesia Readers Festival atau Festival Pembaca Indonesia yang ke-6 kalinya. Acara ini diselenggarakan di Synthesis Tower 2, Pancoran, Jakarta Selatan. Berhubung lokasinya tidak jauh dari rumah saya, saya pun memutuskan untuk mengalokasikan weekend saya agar bisa mampir ke acara ini. Saya tau info mengenai acara ini melalui komunitas Goodreads Indonesia di situs goodreads.com, yang baru saya join beberapa bulan yang lalu. Ini merupakan kali pertamanya saya datang ke acara IRF (Indonesia Readers Festival), dan saya agak menyesal, kenapa acara sehebat ini baru saya ketahui sekarang? Ke saja mana saya 5 IRF sebelumnya?

Hari Sabtu, tanggal 5 Desember 2015, saya ikut serta dalam Workshop bertajuk Creative Writing: Jadikan Keunikanmu Sebuah Karya yang diisi oleh beberapa pembicara dari Bukune. Workshop ini membahas tentang bagaimana kita dapat mulai untuk menulis dari tema sehari-hari yang dekat dengan kehidupan kita dan/atau mengenai apa yang benar-benar kita ketahui. Sebagaimana yang biasa diucapkan oleh Raditya Dika--salah satu penulis 'gacoan' Gagas Media, penerbit yang masih satu grup dengan penerbit Bukune, salah satu pembicara yang merupakan editor Bukune ini (saya lupa namanya) juga mengatakan bahwa tulislah apa yang menjadi kegelisahan kita. Karena bisa jadi, kegelisahan kita merupakan kegelisahan banyak orang juga. Sebagaimana judulnya, "Jadikan Keunikanmu Sebuah Karya", workshop ini memotivasi para peserta yang hadir untuk mulai menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Oleh karena itu, buku-buku yang dijadikan acuan pun buku-buku seperti Kambing Jantan, Skripshit, Tak Kemal Maka Tak Sayang, dan semacamnya. Workshop ini kental sekali dengan gaya anak muda dan banyak mengangkat buku-buku dengan tema yang ringan, kekinian, dan cenderung bertema komedi, seperti beberapa judul yang saya sebutkan sebelumnya.

Sayangnya, karena ada keperluan lain, saya tidak sempat menjelajahi IRF lebih jauh di hari pertama ini. Saya pun memutuskan untuk datang kembali di hari kedua dengan membawa 'bekal' delapan buah buku yang sudah lama tidak saya sentuh--atau bahkan belum sama sekali saya baca--untuk ditukar dalam acara Book Swap atau Tukar Buku.

Beruntungnya saya, tepat ketika saya tiba di lantai 7 di hari kedua Festival Pembaca Indonesia atau IRF (07/12), Book War baru saja akan dimulai. Meskipun tidak terlalu mengerti aturan mainnya (haha!), saya dengan sok tau ikut berdiri di sekitar meja panjang penuh buku-buku dan ikut berebut buku setelah aba-aba diberikan. Saat itu ada beberapa buku yang menjadi incaran saya, di antaranya buku Operation: Break the Cassanova's Heart terbitan Penerbit Haru dan buku cerita fiksi klasik Dracula karya Bram Stoker terbitan Gramedia. Sayangnya, buku-buku tersebut sudah lebih dulu menghilang sebelum saya sempat menyentuhnya, hiks...

Awalnya, saya hanya mengincar buku Operation: Break the Cassanova's Heart karena itu satu-satunya buku yang saya kenal dan cukup mencolok di antara tumpukan buku lainnya. Kemudian, tanpa sengaja saya melihat seorang panitia IRF membawa-bawa buku Dracula, buku yang sudah cukup lama saya incar karena saya tidak dapat menemukannya di toko buku mana pun--sepertinya sudah tidak diterbitkan lagi oleh Gramedia. Kebetulan sekali bukan? Akhirnya saya pun menggeser buku Operation: Break the Cassanova's Heart dari posisi pertama incaran buku saya. Akan tetapi, sayangnya, orang yang berhasil mendapatkan buku Drakula adalah seorang anak remaja perempuan di samping saya. Dan menyebalkannya lagi, reaksi yang dia berikan adalah, "Hah? Apaan nih? Dracula..." Zzzz... Padahal saya sudah lama mencari buku itu di berbagai toko buku :((
Yah, namanya juga belum rezeki. Tetapi, sebagai gantinya, saya berhasil mendapatkan buku Remedy karya Biondy Alfian yang awal tahun ini diterbitkan. Saya memang sudah penasaran dengan buku ini waktu dibahas oleh salah satu book blogger. Jadi, saya tidak kecewa-kecewa amat lah hehehe...

Selepas Book War, pengunjung diperbolehkan kembali melakukan Book Swap. Perbedaan Book Swap dengan Book War adalah di Book Swap tidak ada jangka waktu yang ditentukan, jadi kita bebas memilih tanpa harus terburu-buru dan saling berebut. Akan tetapi, di sesi Book War, sebelum Book War dimulai, panitia kan meletakkan beberapa buku 'emas' di atas meja. Buku-buku emas ini bisa berupa buku-buku yang baru diterbitkan dan masih terbungkus rapih atau bisa juga berupa buku-buku lama yang kondisinya masih bagus dan biasanya best seller atau cukup terkenal. Buku-buku emas inilah yang menjadi incaran dan diperebutkan para peserta Book War.



Daaaaaaan, inilah delapan buku hasil Book Swap + Book War di IRF 2015 kemarin. Sayangnya, karena terburu-buru, saya lupa memfoto buku-buku saya sebelum ditukarkan. Walaupun awalnya saya ikut-ikutan tanpa benar-benar tau aturan mainnya, Book War ini merupakan pengalaman baru sangat yang menyenangkan. Tahun depan, semoga bisa ikutan lagi :D

Senin, 23 November 2015

[Resensi Buku] Critical Eleven

Beberapa hari yang lalu, saat saya dalam perjalanan berangkat menuju Perpustakaan Goethe Institut di daerah Sam Ratulangi, bus yang saya tumpangi hampir menyerempet mobil di depannya. Saat itu tepat sebelum fly over antara Kuningan dan Menteng dan mobil di depan bus saya menyalakan lampu sein kanan, sementara bus kami harus berjalan lurus melewati fly over. Setelah membunyikan klakson beberapa kali karena merasa mobil putih di depan menghalangi, supir bus pun memutuskan untuk menyalip. Akan tetapi, ternyata mobil putih tersebut tidak belok kanan sesuai dengan tanda sein yang diberikannya, melainkan ikut berjalan lurus menuju fly over. Sontak saja bus yang saya tumpangi hampir menabrak mobil itu. Walaupun kesalahan sebenarnya terletak pada kedua belah pihak (supir busnya juga kenapa pake nyalip-nyalip segala?), hal ini membuktikan bahwa kecerobohan supir mobil putih yang salah memberikan tanda sein dapat dengan mudah menyebabkan kecelakaan. Kalau itu yang terjadi dalam dunia lalu lintas, lalu bagaimana dengan hubungan antar manusia?

Dalam dunia lalu lintas yang sudah terdapat aturan-aturan yang jelas saja masih bisa terjadi salah kaprah atau miskomunikasi, apalagi dalam hubungan antar manusia yang punya berjuta-juta tanda yang lebih kompleks. Salah mengartikan bahasa tubuh, nada bicara, pemilihan kata dan lain sebagainya dapat memicu ketidakharmonisan hubungan, baik hubungan dengan orang tua, saudara, teman, ataupun pasangan. Ika Natassa dalam buku terbarunya Critical Eleven menggambarkan betapa rapuhnya hubungan antar manusia yang bisa saja hancur karena permasalahan komunikasi seperti ini.

Judul: Critical Eleven
Format: Buku cetak, soft cover
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 344

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.


In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.


Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.


Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


Critical Eleven bercerita mengenai kisah Ale dan Anya, mulai dari pertemuan mereka pertama kali di pesawat hingga akhirnya berpacaran dan menikah. Pekerjaan Ale sebagai petroleum engineer di Teluk Meksiko dan Anya sebagai management consultant di Jakarta, mengharuskan mereka untuk melakukan hubungan jarak jauh yakni dengan sistem kerja Ale 5 minggu off shore dan 5 minggu libur. Meskipun jarak jauh, hubungan mereka baik-baik saja dengan pasang surut sebagaimana pernikahan-pernikahan lain pada umumnya. Sampai suatu ketika di tahun pernikahan mereka yang kelima, mereka harus menghadapi cobaan yang begitu berat. Mereka kehilangan calon buah hati yang telah bertahun-tahun didambakan. Dan kecerobohan Ale dalam mengatakan--atau lebih tepatnya menggumamkan--sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan semakin memperburuk keadaan. Hal ini yang kemudian mengguncang biduk rumah tangga mereka dan bahkan membuat sang istri berpikir untuk mengakhirinya.

Buku ini diceritakan lewat sudut pandang Ale dan Anya sehingga kita bisa melihat permasalahan yang sedang mereka hadapi tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari dua sudut pandang tokoh utama. Dua sudut pandang ini membantu kita untuk lebih memahami jalan pikir masing-masing tokoh dalam memandang persoalan ini. Saya sebagai pembaca diajak untuk ikut frustasi bersama Ale yang sudah mencoba segala cara untuk mendapatkan kembali hati istrinya. Sementara di sisi lain, sudut pandang Anya yang menggambarkan luka dan trauma mendalam membuat saya berpikir dua kali untuk memaafkan Ale setelah apa yang dilakukannya.

Di bagian awal novel, kita disajikan oleh kisah 'kilas balik;' dan kisah 'masa sekarang' secara bergantian. Kisah 'kilas balik' memaparkan kepada pembaca bagaimana pertemuan awal Ale dan Anya hingga akhirnya mereka menikah. Dan seiring dengan berjalannya plot cerita. kita akan menemukan apa yang menjadi penyebab rusaknya keharmonisan rumah tangga mereka di 'masa sekarang'. Gaya penceritaan seperti ini berhasil membuat saya betah untuk duduk dan terus membalik halaman demi halaman, sambil menebak-nebak apa yang menyebabkan pernikahan mereka menjadi seperti sekarang ini. Dan bahkan ketika konflik utamanya sudah terbuka, saya tetap dibuat penasaran dengan bagaimana kelanjutan kisah mereka dalam menyelesaikan konflik yang sedang mereka hadapi. Apakah cerai adalah satu-satunya jalan keluar ataukah mereka memilih mempertahankan biduk rumah tangga yang hampir karam tersebut?

Critical Eleven merupakan novel Ika Natassa pertama yang saya baca dan beruntunglah saya karena berkesempatan membaca novel teranyar dan barangkali terlarisnya saat ini sebagai buku pertama. Menurut saya, Critical Eleven memiliki plot yang menarik, yang membuat saya terus ingin mengetahui kelanjutan cerita dari setiap halaman yang saya baca. Ika Natassa juga berhasil mengaduk-aduk emosi saya lewat konflik yang dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga pasangan muda Ale dan Anya. Mengikuti kisah rumah tangga Ale dan Anya seperti menaiki roller coaster. Pasang surutnya begitu drastis dan menguras emosi. Kalau hati itu diibaratkan sehelai kain, membaca novel ini seolah-olah membuat hati saya diremas-remas menjadi kusut untuk kemudian disetrika kembali, yang terjadi berkali-kali.

Selain plot yang ciamik, penggambaran watak kedua tokoh utama yang begitu realistis telah menghipnotis saya untuk dengan mudah bersimpati terhadap keresahan Anya dan Ale, pasangan suami istri dengan segala macam kompleksitas permasalahan mereka ditambah dengan cara komunikasi yang begitu berbeda. Ale, yang tanpa sengaja telah menyakiti istri yang sangat dicintainnya dengan kata-kata yang dilontarkannya kepada Anya; dan Anya, yang terlepas dari cintanya yang begitu besar untuk sang suami, merasa tidak sanggup untuk melanjutkan pernikahan mereka, apabila hal serupa terulang kembali di masa yang akan datang. Karena cinta saja ternyata tidak cukup untuk menjadi modal harmonisnya suatu hubungan.

Akan tetapi, ada satu hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini, yakni penggunaan bahasa Inggris yang terlalu random dan mendominasi, terutama di bagian awal novel. Saya menyadari bahwa penggunaan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam novel-novel populer semacam ini memang sangat umum. Apalagi penggunaan bahasa Inggris saat ini cenderung dianggap dapat menunjukkan status sosial yang lebih tinggi dan sepertinya sudah menjadi ciri khas novel-novel metropop untk menyajikan kehidupan orang-orang dari kalangan relatif menengah ke atas. Akan tetapi, penggunaan bahasa Inggris yang terlalu sering dengan jumlah kata atau kalimat yang terlalu banyak dalam satu halaman membuat saya seperti harus bolak-balik mengaktifkan dan menon-aktifkan tombol bahasa Inggris dalam otak saya dan hal tersebut membuat saya agak kurang nyaman. 

Terlepas dari kekurangan yang bisa jadi cuma soal masalah selera tersebut, membaca Critical Eleven membuat saya menyadari bahwa pernikahan tidak bisa selalu berjalan mulus, bahagia tanpa adanya percekcokan. Kadang kala, justru hal-hal yang kecil yang menjadi penyebab keretakan hubungan pernikahan. Akan tetapi, Ika Natassa melalui Critical Eleven seperti berpesan bahwa perceraian tidak melulu harus menjadi solusi utama masalah rumah tangga. Sering kali justru tarik ulur ego dan memperbanyak stok sabar adalah solusi terbaik dalam suatu hubungan. Karena toh masalah rumah tangga tetap akan ada, terlepas dari siapa pun orang yang kita nikahi.

Kamis, 19 November 2015

[Resensi Buku] The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Kisah Kakek Tua Yang Mengubah (Pandangan Kita Terhadap) Dunia

Sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya pernah mendapatkan pembahasan mengenai buku Ich bin kein Berliner: eine Reisefuehrer fuer faule Touristen (Saya Bukan Orang Berlin: Sebuah Panduan Perjalanan untuk Turis-Turis Malas) karya imigran asal Rusia yang menetap di Jerman Vladimir Kaminer. Buku tersebut merupakan karya satir mengenai budaya dan orang-orang Jerman pada umumnya dan Berlin pada khususnya. Kata-kata "Ich bin kein Berliner" sendiri merupakan plesetan dari kutipan pidato Presiden AS John F. Kennedy di Jerman Barat pada 26 Juni 1963: "Ich Bin Ein Berliner"(x)Ich bin kein Berliner menceritakan dengan baik apa yang akan kita akan temukan dan rasakan sebagai orang asing di Jerman, baik hal-hal yang positif, maupun hal-hal yang negatif. Akan tetapi, sindiran-sindiran terhadap budaya Jerman dalam karya ini dikemas dengan begitu halus dan lucu sehingga bukan hanya turis asing yang datang atau imigran yang tinggal di Jerman, orang asli Jerman pun menikmati buku ini, menertawakan kebodohan dan keanehan mereka sendiri di mata orang asing. Sehingga buku ini pun laku terjual dan berhasil menjadi buku saku bestseller. Itulah yang juga saya rasakan saat membaca The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared.


Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared
Format: Buku cetak, soft cover
Penulis: Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halman: 508

Buku ini bercerita tentang Allan Karlson yang kabur dari panti jomponya Rumah Lansia melalui jendela, tepat di hari perayaan ulang tahunnya yang ke-100, yang akan dihadiri oleh walikota Malmkoeping dan diliput oleh surat kabar setempat. Berbekal uang seadanya dan pakaian yang menempel di badan, Allan memulai perjalanannya di kota kecil di Swedia tersebut. Perjalanan yang kemudian membawanya untuk bertemu dengan koper perak, geng penjahat amatiran, maling kecil-kecilan, penjual hotdog yang nyaris bangkrut, wanita berambut merah yang suka mengumpat hingga gajah ilegal. Perjalanan yang akan membuat Allan dicari oleh seisi kota sekaligus, mungkin, 'buronan' tertua sepanjang sejarah Swedia.

Selain cerita di atas, buku ini juga menceritakan secara flash back kisah Allan dari ia kecil hingga dewasa yang ternyata menyimpan banyak kejutan. Selama perjalanan hidupnya, Allan Karlson telah bertemu pemimpin-pemimpin dunia seperti Mao Tse Tung, Stalin, Harry S. Truman, dan Charles de Gaulle. Seiring dengan perjalanan cerita kita juga akan disuguhkan kisah petualangan ajaib dari Allan muda, mulai dari menyebrangi Himalaya sampai tertangkap dan dikurung di penjara di Teheran. Serangkaian petualangan yang ternyata melibatkannya dalam--dan bahkan menjadi dalang di balik--kisah-kisah penting dalam sejarah dunia. Saya tidak ingin membocorkan sinopsis cerita terlalu banyak karena hal itu dapat merusak keseruan dari buku ini. The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared merupakan novel yang minim dialog dan justru memiliki kekuatan pada plotnya. Kisah Allan muda seolah membawa saya berkeliling dunia sekaligus menyuguhi huru-hara politik di setiap negara yang dikunjungi. Sayangnya, saya bukan pecinta sejarah, apalagi politik. Jika sebaliknya, mungkin saya dapat tertawa lebih keras atau mengernyit lebih dalam sambil menyaksikan petualangan Allan muda. Akan tetapi, saya tetap dapat menikmatinya dengan baik.

Selain plot yang menarik, buku ini juga sarat akan kritik sosial. Kritik terhadap badan hukum, birokrasi negara, idealisme politik hingga budaya. Kritik yang disampaikan dengan sangat halus oleh penulisnya Jonas Jonasson sehingga saya hampir tidak menyadarinya.
Sering kali politik tidak hanya tidak penting, tetapi juga terlalu rumit untuk alasan yang tidak penting (hlm. 461).
Di bagian akhir cerita, Jonasson juga sempat menyinggung negara kita Indonesia, dengan segala macam 'kesederhanaan' birokrasi dan budaya 'anti-korupsi' yang dimilikinya. Sebagai orang Indonesia, saya merasa ditampar dengan sindiran-sindiran yang disampaikan oleh Jonasson melalui karakter Allan. Contohnya saat Allan dan teman-temannya kesulitan untuk mengurus izin penerbangan yang akan membawa mereka berlibur di Bali bersama Sonya, si gajah ilegal. Setelah mengetahui bahwa penerbangan Swedia dan Jerman membutuhkan izin dan prosedur yang begitu rumit, termasuk melibatkan dokter hewan yang harus memastikan bahwa setiap hewan yang dibawa tetap sehat sampai tujuan, mereka pun menyerah dan menggunakan salah satu jasa penerbangan dari Indonesia. Sebagaimana yang tergambar dalam dua kutipan berikut ini:
Perusahaan itu berjanji akan mengatur semua surat-surat untuk pendaratan di Swedia, sementara mengatur izin pendaratan di Bali menjadi tanggung jawab pelanggan. Dokter hewan? Untuk apa? (hlm. 480)
"Jangan khawatir," kata Allan dan mengambil alih. "Halo? Apa ini bandara Bali?" ... "Nama saya Dolar," kata Allan. "Seratus Ribu Dolar." (hlm. 482)
Akan tetapi, bukannya membuat marah, sindiran-sindiran tsb justru membuat saya ingin terbahak. Selihai itulah Jonasson mengemas kritik sosial sehingga membuat kita menertawai kebodohan kita sendiri, alih-alih merasa tersinggung.

Cerita The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared ditutup dengan kesimpulan mengenai perjalanan seratus tahun Allan sampai sesaat sebelum ia memutuskan untuk menginjakkan kaki di luar Rumah Lansia pada hari ulang tahunnya yang seabad serta sedikit penggambaran mengenai kehidupannya selepas huru-hara menghilangnya ia dari Rumah Lansia. Bagi saya, bagian ini juga menarik karena membacanya terasa seperti sedang menenggak sebotol minuman dingin setelah seharian berlari dikejar anjing.

Saya mengacungi jempol untuk kejeniusan sang penulis dalam mengolah kisah kakek tua yang menghilang di ulang tahunnya yang ke-100 ini. Tidak heran jika buku ini berhasil meraih predikat international bestseller. Meskipun begitu, ada satu hal yang membuat saya tidak dapat memberikan buku ini nilai sempurna yakni bagian penyelesaian terhadap kasus menghilangnya Allan dari panti jomponya--yang kemudian diikuti dengan serangkaian kisah lainnya. Setelah disuguhi ledakan-ledakan dahsyat sepanjang cerita, saya sebenarnya mengharapkan sesuatu yang lebih dramatis atau setidaknya lebih logis daripada sekedar penyelesaian sederhana dan bahkan cenderung konyol untuk kasus tersebut. Di bagian ini, saya merasa agak bosan sampai sempat beberapa kali meletakkan buku dan memilih membaca buku lain atau melakukan aktivitas yang lainnya.

Akan tetapi, terlepas dari kekurangan tersebut, bagi saya buku ini benar-benar ajaib dan patut diacungi dua jempol. Sungguh 500 halaman yang tidak sia-sia.





Selasa, 10 November 2015

Buku dan Seleraku

I’m back!
Selama setahun belakangan ini, saya merasa benar-benar tidak punya waktu untuk meng-update blog. Nah, mumpung sekarang punya banyak waktu luang (sangat banyak, malah), let’s catch up a little bit!

Sekarang saya mengisi waktu luang dengan membaca, setelah menyadari bahwa saya sebenarnya sungguh-sungguh suka baca—walaupun bacanya sering kali pilih-pilih dan yang saya suka kebanyakaan ga ada isinya alias kurang bermanfaat (kalau bukan ga ada sama sekali). Beberapa tahun terakhir ini, saya menikmati sekali genre young adult contemporary atau buku remaja kontemporer—saya juga kurang yakin sih, young adult itu bisa diterjemahkan sebagai remaja atau tidak karena artinya tidak benar-benar sama dengan remaja (teenagers), menurut pemahaman saya. Kebanyakan buku yang saya baca adalah ebook-ebook berbahasa Inggris yang bertebaran bebas di internet  (hehehe...). Tetapi, selama sebulan terakhir saya mulai menjajaki novel-novel kontemporer populer karya penulis-penulis dalam negri, seperti Ika Natassa, Dahlian, atau Sitta Karina.

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca novel-novel (pinjaman :D) tersebut  adalah saya menikmati membacanya, tetapi tidak sampai pada tahap menyukainya. Sebenarnya dulu, sewaktu SMP saya juga sering membaca novel-novel teenlit dalam negri (teenlit terjemahan juga sih, tetapi lebih suka yang dalam negri), genre yang sepertinya saat itu cukup ngetren. Dan otak abege saya terpesona dengan kebanyakan cerita romantis yang mudah ditebak alias predictable tersebut. Lalu, kenapa sekarang reaksinya lain? Apa mungkin karena buku-buku yang sekarang saya baca adalah buku orang dewasa dengan tema, permasalahan dan karakter orang dewasa? Itu bisa jadi salah satu alasannya. Karena kadang saya mencoba mencicipi buku-buku berkategori new adult atau adult, apabila sedang bosan dengan kebanyakan buku yang biasa saya baca dan hasilnya, kategori young adult tetap jadi juara buat saya. Akan tetapi, setelah lebih dari lima buku roman kontemporer karya penulis dalam negri saya lahap belakangan ini, saya pun menyadari apa yang membuat saya tidak bisa jatuh cinta pada novel-novel romantis tersebut. Saya punya ekspektasi yang berbeda terhadap penulis-penulis lokal ini. Ekspektasi itu berupa nilai.

Kalau bicara soal buku-buku luar, terlepas dari apakah kategorinya adult, new adult, atau young adult, saya paling tidak tahan membaca novel-novel roman yang menceritakan kisah tentang tokoh utama yang melakukan perselingkuhan. It just doesn’t feel right, no matter what the circumstance is. Menurut saya tidak ada pembenaran akan hal itu, jadi saya pasti langsung malas meneruskan baca kalau ceritanya menjurus ke arah situ. Tetapi berhubung buku-buku tersebut berlatar belakang budaya Barat, saya semacam menutup mata atau tidak peduli jika ada nilai-nilai seperti seks bebas, menjalin hubungan fisik tanpa ikatan yang jelas (seperti no string attached atau friends with benefits, atau apalah sebutannya), tidak akur atau tidak sopan terhadap orang tua, dan lain sebagainya. Karena menurut saya, budaya mereka begitu, jadi mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.

Lain halnya dengan novel-novel roman dalam negri. Saya mengharapkan nilai-nilai tertentu yang bagi saya perlu dimunculkan untuk membedakan apakah saya sedang baca buku karya penulis Indonesia dengan latar belakang budaya kita atau sedang membaca buku-buku terjemahan. Saya tidak mengharapkan yang muluk-muluk, toh saya juga bukan penikmat buku-buku sastra kelas berat seperti novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer atau Putu Wijaya (yang menurut saya pribadi sih, buku-buku mereka termasuk bacaan berat hehe...). Ekspektasi semacam ini lah yang membuat saya lebih menyukai buku-buku karya Andrea Hirata yang syarat dengan budaya Melayu, atau buku Dilan karya Pidi Baiq—yang baru-baru ini diterbitkan—yang walaupun isinya sangat ringan, hampir setiap scenenya terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Bisa jadi ini cuma soal perbedaan selera atau mungkin memang ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar soal perbedaan selera. Toh, buku-buku tersebut tetap laris manis terjual. Yang paling penting, saya berharap dunia sastra indonesia semakin berkembang dan semakin banyak penulis-penulis berbakat yang akan meramaikan toko buku-toko buku kita. Mungkin suatu hari saya bisa jadi salah satunya? :D

Minggu, 01 Juni 2014

Vorbei ist Vorbei

Memasuki pertengahan tahun, atau lebih tepatnya memasuki awal bulan keenam, saya sadar telah mengalami banyak hal selama tahun 2014 ini. Mulai dari awal karir yang ternyata ‘berakhir’ tidak begitu baik—hehehe... (kenapa ketawa? Padahal seharusnya sedih nih)—sampai berita duka yang saya terima yang hampir sejumlah dengan bulan yang sudah kita lewati di tahun 2014 ini.

Selama tahun 2014, saya mendapatkan banyak sekali berita duka; dua di antaranya dari anggota keluarga dekat. Selain itu, di tahun ini saya juga kehilangan salah seorang dosen favorit semasa di kampus dulu dan dua orang teman saya masing-masing kehilangan ayah dan ibu mereka. Salah satu di antara kedua teman ini adalah sahabat dekat semasa SMA dulu. Entah kenapa di tahun ini berita duka seperti datang bertubi-tubi, seolah-olah tidak memberikan saya waktu untuk bernapas barang sejenak, sebelum datang berita duka yang lainnya. Ini mungkin salah satu paruh tahun dengan berita duka terbanyak yang pernah saya alami selama lebih dari 20 tahun hidup. Akan tetapi, bagaimana pun, masih ada pihak-pihak yang jauh lebih pantas untuk merasa sedih dan kehilangan daripada saya.

Saya tidak mau mengumbar terlalu banyak mengenai hal sedih ini karena selain merupakan hal yang bersifat pribadi, rasanya mengingat-ingat semua kejadian tersebut hanya akan merobek luka yang belum benar-benar kering (tsaaah, tapi ini beneran). Sebagaimana judul tulisan ini ‘vorbei ist vorbei’, yang lalu biarlah berlalu.
Semua orang yang pergi itu, meninggal dengan cara yang normal; kesemuanya meninggal karena sakit, baik yang menahun atau yang mendadak. Ada yang meninggal karena serangan jantung, dilarikan ke RS masih dalam keadaan sadar, bisa bicara dan memberitahukan keadaannya ke kerabat terdekat, tetapi kemudian setelah semalam di RS, ternyata beliau pergi. Ada yang sudah tahunan menderita sakit, bolak-balik masuk RS sampai akhirnya di sakit yang terakhir, ternyata Allah SWT sudah menetapkan saat itu sebagai waktu baginya untuk pergi. Ada juga yang belum terlalu lama sakit dan sebelum meninggal sempat terlihat cukup fit sampai kemudian kesehatannya drop dan ajal menjemput.

Terlepas dari semua itu, baik yang meninggal secara mendadak ataupun yang memang sudah lama menderita penyakit tertentu, saya sadar bahwa, sebagaimana kesehatan, waktu tidak bisa dibeli. Seseorang yang sakit karena lanjut usia, dicekoki berbagai macam pil dan terapi kesehatan, kalau memang belum ajalnya, tidak peduli seberapa lemah ia terlihat atau seberapa sering ia keluar-masuk rumah sakit, ia akan tetap hidup. Lama sekali sampai Allah SWT menghendaki sebaliknya. Begitu pun seorang pesakitan muda yang sudah mengeluarkan begitu banyak biaya dan mencoba berbagai macam cara, kalau memang sudah ajal, mungkin semua yang dilakukan itu hanya berfungsi sebagai ikhtiar sebagai seorang hamba sekaligus, mungkin, usaha untuk ‘membayar rasa bersalah’ seluruh anggota keluarga dan kerabat dekat karena pada dasarnya, sang empunya tubuh sudah tidak tertolong lagi. Di situ lah letak tidak terbelinya waktu. Karena Allah SWT yang punya kuasa. Atas tubuh kita, atas waktu yang kita punya, atas berhasil tidaknya ikhtiar kita untuk tetap sehat dan/atau untuk menyembuhkan suatu penyakit. Dan kalau sudah begitu, bukan lagi jadi soal apakah benar keputusan sang dokter untuk mengambil atau tidak mengambil suatu tindakan tertentu, terlambat atau tidaknya seseorang ditangani tim medis, atau tindakan begini dan tindakan begitu yang seharusnya dilakukan orang-orang terdekat ketika seseorang menunjukkan gejala yang berujung pada kondisi kritis.

Bagi saya, pembicaraan yang berulang-ulang mengenai kondisi akhir seseorang sebelum ia pergi, penyesalan mengenai tindakan-tindakan yang seharusnya diambil dan tidak diambil, atau atas sebab apa dan kesalahan siapa sehingga orang tersebut tak tertolong, sebenarnya hanya merupakan salep luka bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Anggota keluarga dan para kerabat dekat yang terus-menerus membahas hal yang sama, dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain selama hari-hari awal kepergiannya, selain merupakan bentuk kesedihan dan kehilangan, menurut yang pernah saya alami dan rasakan, juga merupakan pengikis rasa bersalah mereka atas sesuatu yang tidak bisa mereka beli: waktu.

Seandainya dibawa ke RS lebih cepat, ditangani tim medis lebih awal, mungkin si A bisa terselamatkan. Seandainya kami tidak menurutinya untuk membolehkan ia makan ini dan makan itu, melakukan ini dan melakukan itu, mungkin keadaannya tidak akan berakhir seperti ini. Seandainya ia tetap dirawat intensif di RS sehingga ada yang 24 jam menjaganya, mungkin kami akan tau ketika tubuhnya menunjukkan gejala begini dan begitu. Akan tetapi, saya percaya bahwa ajal dan cara kita pergi meninggalkan dunia ini sudah ditulis oleh Yang Berkuasa Atas Segalanya, jauh dari sebelum kita akhirnya harus menghadapi itu. Dan semua pengandaian tadi kemudian hanya menjadi bentuk penyesalan dan rasa bersalah karena bagaimana pun manusia tidak bisa menggeser ajal.


Tidak peduli apa yang kita usahakan atau apa yang seseorang lakukan dan tidak lakukan, ia tetap akan mati di waktu yang sama, dengan cara yang sama, jika Allah SWT sudah menghendakinya begitu. Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan atas kepergian orang-orang terdekat kita adalah ikhlas. Kemudian tetap melanjutkan hidup sebagai orang baik, sambil terus mendoakan supaya Dia menghendaki kita untuk berkumpul kembali di surga-Nya nanti, tempat di mana tidak ada pembicaraan sia-sia dan tidak ada penyesalan. Wallahua’lam.