Minggu, 01 Juni 2014

Vorbei ist Vorbei

Memasuki pertengahan tahun, atau lebih tepatnya memasuki awal bulan keenam, saya sadar telah mengalami banyak hal selama tahun 2014 ini. Mulai dari awal karir yang ternyata ‘berakhir’ tidak begitu baik—hehehe... (kenapa ketawa? Padahal seharusnya sedih nih)—sampai berita duka yang saya terima yang hampir sejumlah dengan bulan yang sudah kita lewati di tahun 2014 ini.

Selama tahun 2014, saya mendapatkan banyak sekali berita duka; dua di antaranya dari anggota keluarga dekat. Selain itu, di tahun ini saya juga kehilangan salah seorang dosen favorit semasa di kampus dulu dan dua orang teman saya masing-masing kehilangan ayah dan ibu mereka. Salah satu di antara kedua teman ini adalah sahabat dekat semasa SMA dulu. Entah kenapa di tahun ini berita duka seperti datang bertubi-tubi, seolah-olah tidak memberikan saya waktu untuk bernapas barang sejenak, sebelum datang berita duka yang lainnya. Ini mungkin salah satu paruh tahun dengan berita duka terbanyak yang pernah saya alami selama lebih dari 20 tahun hidup. Akan tetapi, bagaimana pun, masih ada pihak-pihak yang jauh lebih pantas untuk merasa sedih dan kehilangan daripada saya.

Saya tidak mau mengumbar terlalu banyak mengenai hal sedih ini karena selain merupakan hal yang bersifat pribadi, rasanya mengingat-ingat semua kejadian tersebut hanya akan merobek luka yang belum benar-benar kering (tsaaah, tapi ini beneran). Sebagaimana judul tulisan ini ‘vorbei ist vorbei’, yang lalu biarlah berlalu.
Semua orang yang pergi itu, meninggal dengan cara yang normal; kesemuanya meninggal karena sakit, baik yang menahun atau yang mendadak. Ada yang meninggal karena serangan jantung, dilarikan ke RS masih dalam keadaan sadar, bisa bicara dan memberitahukan keadaannya ke kerabat terdekat, tetapi kemudian setelah semalam di RS, ternyata beliau pergi. Ada yang sudah tahunan menderita sakit, bolak-balik masuk RS sampai akhirnya di sakit yang terakhir, ternyata Allah SWT sudah menetapkan saat itu sebagai waktu baginya untuk pergi. Ada juga yang belum terlalu lama sakit dan sebelum meninggal sempat terlihat cukup fit sampai kemudian kesehatannya drop dan ajal menjemput.

Terlepas dari semua itu, baik yang meninggal secara mendadak ataupun yang memang sudah lama menderita penyakit tertentu, saya sadar bahwa, sebagaimana kesehatan, waktu tidak bisa dibeli. Seseorang yang sakit karena lanjut usia, dicekoki berbagai macam pil dan terapi kesehatan, kalau memang belum ajalnya, tidak peduli seberapa lemah ia terlihat atau seberapa sering ia keluar-masuk rumah sakit, ia akan tetap hidup. Lama sekali sampai Allah SWT menghendaki sebaliknya. Begitu pun seorang pesakitan muda yang sudah mengeluarkan begitu banyak biaya dan mencoba berbagai macam cara, kalau memang sudah ajal, mungkin semua yang dilakukan itu hanya berfungsi sebagai ikhtiar sebagai seorang hamba sekaligus, mungkin, usaha untuk ‘membayar rasa bersalah’ seluruh anggota keluarga dan kerabat dekat karena pada dasarnya, sang empunya tubuh sudah tidak tertolong lagi. Di situ lah letak tidak terbelinya waktu. Karena Allah SWT yang punya kuasa. Atas tubuh kita, atas waktu yang kita punya, atas berhasil tidaknya ikhtiar kita untuk tetap sehat dan/atau untuk menyembuhkan suatu penyakit. Dan kalau sudah begitu, bukan lagi jadi soal apakah benar keputusan sang dokter untuk mengambil atau tidak mengambil suatu tindakan tertentu, terlambat atau tidaknya seseorang ditangani tim medis, atau tindakan begini dan tindakan begitu yang seharusnya dilakukan orang-orang terdekat ketika seseorang menunjukkan gejala yang berujung pada kondisi kritis.

Bagi saya, pembicaraan yang berulang-ulang mengenai kondisi akhir seseorang sebelum ia pergi, penyesalan mengenai tindakan-tindakan yang seharusnya diambil dan tidak diambil, atau atas sebab apa dan kesalahan siapa sehingga orang tersebut tak tertolong, sebenarnya hanya merupakan salep luka bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Anggota keluarga dan para kerabat dekat yang terus-menerus membahas hal yang sama, dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain selama hari-hari awal kepergiannya, selain merupakan bentuk kesedihan dan kehilangan, menurut yang pernah saya alami dan rasakan, juga merupakan pengikis rasa bersalah mereka atas sesuatu yang tidak bisa mereka beli: waktu.

Seandainya dibawa ke RS lebih cepat, ditangani tim medis lebih awal, mungkin si A bisa terselamatkan. Seandainya kami tidak menurutinya untuk membolehkan ia makan ini dan makan itu, melakukan ini dan melakukan itu, mungkin keadaannya tidak akan berakhir seperti ini. Seandainya ia tetap dirawat intensif di RS sehingga ada yang 24 jam menjaganya, mungkin kami akan tau ketika tubuhnya menunjukkan gejala begini dan begitu. Akan tetapi, saya percaya bahwa ajal dan cara kita pergi meninggalkan dunia ini sudah ditulis oleh Yang Berkuasa Atas Segalanya, jauh dari sebelum kita akhirnya harus menghadapi itu. Dan semua pengandaian tadi kemudian hanya menjadi bentuk penyesalan dan rasa bersalah karena bagaimana pun manusia tidak bisa menggeser ajal.


Tidak peduli apa yang kita usahakan atau apa yang seseorang lakukan dan tidak lakukan, ia tetap akan mati di waktu yang sama, dengan cara yang sama, jika Allah SWT sudah menghendakinya begitu. Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan atas kepergian orang-orang terdekat kita adalah ikhlas. Kemudian tetap melanjutkan hidup sebagai orang baik, sambil terus mendoakan supaya Dia menghendaki kita untuk berkumpul kembali di surga-Nya nanti, tempat di mana tidak ada pembicaraan sia-sia dan tidak ada penyesalan. Wallahua’lam.