Beberapa hari yang lalu, saat saya dalam perjalanan berangkat menuju Perpustakaan Goethe Institut di daerah Sam Ratulangi, bus yang saya tumpangi hampir menyerempet mobil di depannya. Saat itu tepat sebelum fly over antara Kuningan dan Menteng dan mobil di depan bus saya menyalakan lampu sein kanan, sementara bus kami harus berjalan lurus melewati fly over. Setelah membunyikan klakson beberapa kali karena merasa mobil putih di depan menghalangi, supir bus pun memutuskan untuk menyalip. Akan tetapi, ternyata mobil putih tersebut tidak belok kanan sesuai dengan tanda sein yang diberikannya, melainkan ikut berjalan lurus menuju fly over. Sontak saja bus yang saya tumpangi hampir menabrak mobil itu. Walaupun kesalahan sebenarnya terletak pada kedua belah pihak (supir busnya juga kenapa pake nyalip-nyalip segala?), hal ini membuktikan bahwa kecerobohan supir mobil putih yang salah memberikan tanda sein dapat dengan mudah menyebabkan kecelakaan. Kalau itu yang terjadi dalam dunia lalu lintas, lalu bagaimana dengan hubungan antar manusia?
Dalam dunia lalu lintas yang sudah terdapat aturan-aturan yang jelas saja masih bisa terjadi salah kaprah atau miskomunikasi, apalagi dalam hubungan antar manusia yang punya berjuta-juta tanda yang lebih kompleks. Salah mengartikan bahasa tubuh, nada bicara, pemilihan kata dan lain sebagainya dapat memicu ketidakharmonisan hubungan, baik hubungan dengan orang tua, saudara, teman, ataupun pasangan. Ika Natassa dalam buku terbarunya Critical Eleven menggambarkan betapa rapuhnya hubungan antar manusia yang bisa saja hancur karena permasalahan komunikasi seperti ini.
Judul: Critical Eleven
Format: Buku cetak, soft cover
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 344
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.
Critical Eleven bercerita mengenai kisah Ale dan Anya, mulai dari pertemuan mereka pertama kali di pesawat hingga akhirnya berpacaran dan menikah. Pekerjaan Ale sebagai petroleum engineer di Teluk Meksiko dan Anya sebagai management consultant di Jakarta, mengharuskan mereka untuk melakukan hubungan jarak jauh yakni dengan sistem kerja Ale 5 minggu off shore dan 5 minggu libur. Meskipun jarak jauh, hubungan mereka baik-baik saja dengan pasang surut sebagaimana pernikahan-pernikahan lain pada umumnya. Sampai suatu ketika di tahun pernikahan mereka yang kelima, mereka harus menghadapi cobaan yang begitu berat. Mereka kehilangan calon buah hati yang telah bertahun-tahun didambakan. Dan kecerobohan Ale dalam mengatakan--atau lebih tepatnya menggumamkan--sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan semakin memperburuk keadaan. Hal ini yang kemudian mengguncang biduk rumah tangga mereka dan bahkan membuat sang istri berpikir untuk mengakhirinya.
Buku ini diceritakan lewat sudut pandang Ale dan Anya sehingga kita bisa melihat permasalahan yang sedang mereka hadapi tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari dua sudut pandang tokoh utama. Dua sudut pandang ini membantu kita untuk lebih memahami jalan pikir masing-masing tokoh dalam memandang persoalan ini. Saya sebagai pembaca diajak untuk ikut frustasi bersama Ale yang sudah mencoba segala cara untuk mendapatkan kembali hati istrinya. Sementara di sisi lain, sudut pandang Anya yang menggambarkan luka dan trauma mendalam membuat saya berpikir dua kali untuk memaafkan Ale setelah apa yang dilakukannya.
Di bagian awal novel, kita disajikan oleh kisah 'kilas balik;' dan kisah 'masa sekarang' secara bergantian. Kisah 'kilas balik' memaparkan kepada pembaca bagaimana pertemuan awal Ale dan Anya hingga akhirnya mereka menikah. Dan seiring dengan berjalannya plot cerita. kita akan menemukan apa yang menjadi penyebab rusaknya keharmonisan rumah tangga mereka di 'masa sekarang'. Gaya penceritaan seperti ini berhasil membuat saya betah untuk duduk dan terus membalik halaman demi halaman, sambil menebak-nebak apa yang menyebabkan pernikahan mereka menjadi seperti sekarang ini. Dan bahkan ketika konflik utamanya sudah terbuka, saya tetap dibuat penasaran dengan bagaimana kelanjutan kisah mereka dalam menyelesaikan konflik yang sedang mereka hadapi. Apakah cerai adalah satu-satunya jalan keluar ataukah mereka memilih mempertahankan biduk rumah tangga yang hampir karam tersebut?
Critical Eleven merupakan novel Ika Natassa pertama yang saya baca dan beruntunglah saya karena berkesempatan membaca novel teranyar dan barangkali terlarisnya saat ini sebagai buku pertama. Menurut saya, Critical Eleven memiliki plot yang menarik, yang membuat saya terus ingin mengetahui kelanjutan cerita dari setiap halaman yang saya baca. Ika Natassa juga berhasil mengaduk-aduk emosi saya lewat konflik yang dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga pasangan muda Ale dan Anya. Mengikuti kisah rumah tangga Ale dan Anya seperti menaiki roller coaster. Pasang surutnya begitu drastis dan menguras emosi. Kalau hati itu diibaratkan sehelai kain, membaca novel ini seolah-olah membuat hati saya diremas-remas menjadi kusut untuk kemudian disetrika kembali, yang terjadi berkali-kali.
Selain plot yang ciamik, penggambaran watak kedua tokoh utama yang begitu realistis telah menghipnotis saya untuk dengan mudah bersimpati terhadap keresahan Anya dan Ale, pasangan suami istri dengan segala macam kompleksitas permasalahan mereka ditambah dengan cara komunikasi yang begitu berbeda. Ale, yang tanpa sengaja telah menyakiti istri yang sangat dicintainnya dengan kata-kata yang dilontarkannya kepada Anya; dan Anya, yang terlepas dari cintanya yang begitu besar untuk sang suami, merasa tidak sanggup untuk melanjutkan pernikahan mereka, apabila hal serupa terulang kembali di masa yang akan datang. Karena cinta saja ternyata tidak cukup untuk menjadi modal harmonisnya suatu hubungan.
Akan tetapi, ada satu hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini, yakni penggunaan bahasa Inggris yang terlalu random dan mendominasi, terutama di bagian awal novel. Saya menyadari bahwa penggunaan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam novel-novel populer semacam ini memang sangat umum. Apalagi penggunaan bahasa Inggris saat ini cenderung dianggap dapat menunjukkan status sosial yang lebih tinggi dan sepertinya sudah menjadi ciri khas novel-novel metropop untk menyajikan kehidupan orang-orang dari kalangan relatif menengah ke atas. Akan tetapi, penggunaan bahasa Inggris yang terlalu sering dengan jumlah kata atau kalimat yang terlalu banyak dalam satu halaman membuat saya seperti harus bolak-balik mengaktifkan dan menon-aktifkan tombol bahasa Inggris dalam otak saya dan hal tersebut membuat saya agak kurang nyaman.
Critical Eleven merupakan novel Ika Natassa pertama yang saya baca dan beruntunglah saya karena berkesempatan membaca novel teranyar dan barangkali terlarisnya saat ini sebagai buku pertama. Menurut saya, Critical Eleven memiliki plot yang menarik, yang membuat saya terus ingin mengetahui kelanjutan cerita dari setiap halaman yang saya baca. Ika Natassa juga berhasil mengaduk-aduk emosi saya lewat konflik yang dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga pasangan muda Ale dan Anya. Mengikuti kisah rumah tangga Ale dan Anya seperti menaiki roller coaster. Pasang surutnya begitu drastis dan menguras emosi. Kalau hati itu diibaratkan sehelai kain, membaca novel ini seolah-olah membuat hati saya diremas-remas menjadi kusut untuk kemudian disetrika kembali, yang terjadi berkali-kali.
Selain plot yang ciamik, penggambaran watak kedua tokoh utama yang begitu realistis telah menghipnotis saya untuk dengan mudah bersimpati terhadap keresahan Anya dan Ale, pasangan suami istri dengan segala macam kompleksitas permasalahan mereka ditambah dengan cara komunikasi yang begitu berbeda. Ale, yang tanpa sengaja telah menyakiti istri yang sangat dicintainnya dengan kata-kata yang dilontarkannya kepada Anya; dan Anya, yang terlepas dari cintanya yang begitu besar untuk sang suami, merasa tidak sanggup untuk melanjutkan pernikahan mereka, apabila hal serupa terulang kembali di masa yang akan datang. Karena cinta saja ternyata tidak cukup untuk menjadi modal harmonisnya suatu hubungan.
Akan tetapi, ada satu hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini, yakni penggunaan bahasa Inggris yang terlalu random dan mendominasi, terutama di bagian awal novel. Saya menyadari bahwa penggunaan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam novel-novel populer semacam ini memang sangat umum. Apalagi penggunaan bahasa Inggris saat ini cenderung dianggap dapat menunjukkan status sosial yang lebih tinggi dan sepertinya sudah menjadi ciri khas novel-novel metropop untk menyajikan kehidupan orang-orang dari kalangan relatif menengah ke atas. Akan tetapi, penggunaan bahasa Inggris yang terlalu sering dengan jumlah kata atau kalimat yang terlalu banyak dalam satu halaman membuat saya seperti harus bolak-balik mengaktifkan dan menon-aktifkan tombol bahasa Inggris dalam otak saya dan hal tersebut membuat saya agak kurang nyaman.
Terlepas dari kekurangan yang bisa jadi cuma soal masalah selera tersebut, membaca Critical Eleven membuat saya menyadari bahwa pernikahan tidak bisa selalu berjalan mulus, bahagia tanpa adanya percekcokan. Kadang kala, justru hal-hal yang kecil yang menjadi penyebab keretakan hubungan pernikahan. Akan tetapi, Ika Natassa melalui Critical Eleven seperti berpesan bahwa perceraian tidak melulu harus menjadi solusi utama masalah rumah tangga. Sering kali justru tarik ulur ego dan memperbanyak stok sabar adalah solusi terbaik dalam suatu hubungan. Karena toh masalah rumah tangga tetap akan ada, terlepas dari siapa pun orang yang kita nikahi.

