Senin, 23 November 2015

[Resensi Buku] Critical Eleven

Beberapa hari yang lalu, saat saya dalam perjalanan berangkat menuju Perpustakaan Goethe Institut di daerah Sam Ratulangi, bus yang saya tumpangi hampir menyerempet mobil di depannya. Saat itu tepat sebelum fly over antara Kuningan dan Menteng dan mobil di depan bus saya menyalakan lampu sein kanan, sementara bus kami harus berjalan lurus melewati fly over. Setelah membunyikan klakson beberapa kali karena merasa mobil putih di depan menghalangi, supir bus pun memutuskan untuk menyalip. Akan tetapi, ternyata mobil putih tersebut tidak belok kanan sesuai dengan tanda sein yang diberikannya, melainkan ikut berjalan lurus menuju fly over. Sontak saja bus yang saya tumpangi hampir menabrak mobil itu. Walaupun kesalahan sebenarnya terletak pada kedua belah pihak (supir busnya juga kenapa pake nyalip-nyalip segala?), hal ini membuktikan bahwa kecerobohan supir mobil putih yang salah memberikan tanda sein dapat dengan mudah menyebabkan kecelakaan. Kalau itu yang terjadi dalam dunia lalu lintas, lalu bagaimana dengan hubungan antar manusia?

Dalam dunia lalu lintas yang sudah terdapat aturan-aturan yang jelas saja masih bisa terjadi salah kaprah atau miskomunikasi, apalagi dalam hubungan antar manusia yang punya berjuta-juta tanda yang lebih kompleks. Salah mengartikan bahasa tubuh, nada bicara, pemilihan kata dan lain sebagainya dapat memicu ketidakharmonisan hubungan, baik hubungan dengan orang tua, saudara, teman, ataupun pasangan. Ika Natassa dalam buku terbarunya Critical Eleven menggambarkan betapa rapuhnya hubungan antar manusia yang bisa saja hancur karena permasalahan komunikasi seperti ini.

Judul: Critical Eleven
Format: Buku cetak, soft cover
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 344

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.


In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.


Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.


Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


Critical Eleven bercerita mengenai kisah Ale dan Anya, mulai dari pertemuan mereka pertama kali di pesawat hingga akhirnya berpacaran dan menikah. Pekerjaan Ale sebagai petroleum engineer di Teluk Meksiko dan Anya sebagai management consultant di Jakarta, mengharuskan mereka untuk melakukan hubungan jarak jauh yakni dengan sistem kerja Ale 5 minggu off shore dan 5 minggu libur. Meskipun jarak jauh, hubungan mereka baik-baik saja dengan pasang surut sebagaimana pernikahan-pernikahan lain pada umumnya. Sampai suatu ketika di tahun pernikahan mereka yang kelima, mereka harus menghadapi cobaan yang begitu berat. Mereka kehilangan calon buah hati yang telah bertahun-tahun didambakan. Dan kecerobohan Ale dalam mengatakan--atau lebih tepatnya menggumamkan--sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan semakin memperburuk keadaan. Hal ini yang kemudian mengguncang biduk rumah tangga mereka dan bahkan membuat sang istri berpikir untuk mengakhirinya.

Buku ini diceritakan lewat sudut pandang Ale dan Anya sehingga kita bisa melihat permasalahan yang sedang mereka hadapi tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari dua sudut pandang tokoh utama. Dua sudut pandang ini membantu kita untuk lebih memahami jalan pikir masing-masing tokoh dalam memandang persoalan ini. Saya sebagai pembaca diajak untuk ikut frustasi bersama Ale yang sudah mencoba segala cara untuk mendapatkan kembali hati istrinya. Sementara di sisi lain, sudut pandang Anya yang menggambarkan luka dan trauma mendalam membuat saya berpikir dua kali untuk memaafkan Ale setelah apa yang dilakukannya.

Di bagian awal novel, kita disajikan oleh kisah 'kilas balik;' dan kisah 'masa sekarang' secara bergantian. Kisah 'kilas balik' memaparkan kepada pembaca bagaimana pertemuan awal Ale dan Anya hingga akhirnya mereka menikah. Dan seiring dengan berjalannya plot cerita. kita akan menemukan apa yang menjadi penyebab rusaknya keharmonisan rumah tangga mereka di 'masa sekarang'. Gaya penceritaan seperti ini berhasil membuat saya betah untuk duduk dan terus membalik halaman demi halaman, sambil menebak-nebak apa yang menyebabkan pernikahan mereka menjadi seperti sekarang ini. Dan bahkan ketika konflik utamanya sudah terbuka, saya tetap dibuat penasaran dengan bagaimana kelanjutan kisah mereka dalam menyelesaikan konflik yang sedang mereka hadapi. Apakah cerai adalah satu-satunya jalan keluar ataukah mereka memilih mempertahankan biduk rumah tangga yang hampir karam tersebut?

Critical Eleven merupakan novel Ika Natassa pertama yang saya baca dan beruntunglah saya karena berkesempatan membaca novel teranyar dan barangkali terlarisnya saat ini sebagai buku pertama. Menurut saya, Critical Eleven memiliki plot yang menarik, yang membuat saya terus ingin mengetahui kelanjutan cerita dari setiap halaman yang saya baca. Ika Natassa juga berhasil mengaduk-aduk emosi saya lewat konflik yang dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga pasangan muda Ale dan Anya. Mengikuti kisah rumah tangga Ale dan Anya seperti menaiki roller coaster. Pasang surutnya begitu drastis dan menguras emosi. Kalau hati itu diibaratkan sehelai kain, membaca novel ini seolah-olah membuat hati saya diremas-remas menjadi kusut untuk kemudian disetrika kembali, yang terjadi berkali-kali.

Selain plot yang ciamik, penggambaran watak kedua tokoh utama yang begitu realistis telah menghipnotis saya untuk dengan mudah bersimpati terhadap keresahan Anya dan Ale, pasangan suami istri dengan segala macam kompleksitas permasalahan mereka ditambah dengan cara komunikasi yang begitu berbeda. Ale, yang tanpa sengaja telah menyakiti istri yang sangat dicintainnya dengan kata-kata yang dilontarkannya kepada Anya; dan Anya, yang terlepas dari cintanya yang begitu besar untuk sang suami, merasa tidak sanggup untuk melanjutkan pernikahan mereka, apabila hal serupa terulang kembali di masa yang akan datang. Karena cinta saja ternyata tidak cukup untuk menjadi modal harmonisnya suatu hubungan.

Akan tetapi, ada satu hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini, yakni penggunaan bahasa Inggris yang terlalu random dan mendominasi, terutama di bagian awal novel. Saya menyadari bahwa penggunaan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam novel-novel populer semacam ini memang sangat umum. Apalagi penggunaan bahasa Inggris saat ini cenderung dianggap dapat menunjukkan status sosial yang lebih tinggi dan sepertinya sudah menjadi ciri khas novel-novel metropop untk menyajikan kehidupan orang-orang dari kalangan relatif menengah ke atas. Akan tetapi, penggunaan bahasa Inggris yang terlalu sering dengan jumlah kata atau kalimat yang terlalu banyak dalam satu halaman membuat saya seperti harus bolak-balik mengaktifkan dan menon-aktifkan tombol bahasa Inggris dalam otak saya dan hal tersebut membuat saya agak kurang nyaman. 

Terlepas dari kekurangan yang bisa jadi cuma soal masalah selera tersebut, membaca Critical Eleven membuat saya menyadari bahwa pernikahan tidak bisa selalu berjalan mulus, bahagia tanpa adanya percekcokan. Kadang kala, justru hal-hal yang kecil yang menjadi penyebab keretakan hubungan pernikahan. Akan tetapi, Ika Natassa melalui Critical Eleven seperti berpesan bahwa perceraian tidak melulu harus menjadi solusi utama masalah rumah tangga. Sering kali justru tarik ulur ego dan memperbanyak stok sabar adalah solusi terbaik dalam suatu hubungan. Karena toh masalah rumah tangga tetap akan ada, terlepas dari siapa pun orang yang kita nikahi.

Kamis, 19 November 2015

[Resensi Buku] The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Kisah Kakek Tua Yang Mengubah (Pandangan Kita Terhadap) Dunia

Sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya pernah mendapatkan pembahasan mengenai buku Ich bin kein Berliner: eine Reisefuehrer fuer faule Touristen (Saya Bukan Orang Berlin: Sebuah Panduan Perjalanan untuk Turis-Turis Malas) karya imigran asal Rusia yang menetap di Jerman Vladimir Kaminer. Buku tersebut merupakan karya satir mengenai budaya dan orang-orang Jerman pada umumnya dan Berlin pada khususnya. Kata-kata "Ich bin kein Berliner" sendiri merupakan plesetan dari kutipan pidato Presiden AS John F. Kennedy di Jerman Barat pada 26 Juni 1963: "Ich Bin Ein Berliner"(x)Ich bin kein Berliner menceritakan dengan baik apa yang akan kita akan temukan dan rasakan sebagai orang asing di Jerman, baik hal-hal yang positif, maupun hal-hal yang negatif. Akan tetapi, sindiran-sindiran terhadap budaya Jerman dalam karya ini dikemas dengan begitu halus dan lucu sehingga bukan hanya turis asing yang datang atau imigran yang tinggal di Jerman, orang asli Jerman pun menikmati buku ini, menertawakan kebodohan dan keanehan mereka sendiri di mata orang asing. Sehingga buku ini pun laku terjual dan berhasil menjadi buku saku bestseller. Itulah yang juga saya rasakan saat membaca The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared.


Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared
Format: Buku cetak, soft cover
Penulis: Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halman: 508

Buku ini bercerita tentang Allan Karlson yang kabur dari panti jomponya Rumah Lansia melalui jendela, tepat di hari perayaan ulang tahunnya yang ke-100, yang akan dihadiri oleh walikota Malmkoeping dan diliput oleh surat kabar setempat. Berbekal uang seadanya dan pakaian yang menempel di badan, Allan memulai perjalanannya di kota kecil di Swedia tersebut. Perjalanan yang kemudian membawanya untuk bertemu dengan koper perak, geng penjahat amatiran, maling kecil-kecilan, penjual hotdog yang nyaris bangkrut, wanita berambut merah yang suka mengumpat hingga gajah ilegal. Perjalanan yang akan membuat Allan dicari oleh seisi kota sekaligus, mungkin, 'buronan' tertua sepanjang sejarah Swedia.

Selain cerita di atas, buku ini juga menceritakan secara flash back kisah Allan dari ia kecil hingga dewasa yang ternyata menyimpan banyak kejutan. Selama perjalanan hidupnya, Allan Karlson telah bertemu pemimpin-pemimpin dunia seperti Mao Tse Tung, Stalin, Harry S. Truman, dan Charles de Gaulle. Seiring dengan perjalanan cerita kita juga akan disuguhkan kisah petualangan ajaib dari Allan muda, mulai dari menyebrangi Himalaya sampai tertangkap dan dikurung di penjara di Teheran. Serangkaian petualangan yang ternyata melibatkannya dalam--dan bahkan menjadi dalang di balik--kisah-kisah penting dalam sejarah dunia. Saya tidak ingin membocorkan sinopsis cerita terlalu banyak karena hal itu dapat merusak keseruan dari buku ini. The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared merupakan novel yang minim dialog dan justru memiliki kekuatan pada plotnya. Kisah Allan muda seolah membawa saya berkeliling dunia sekaligus menyuguhi huru-hara politik di setiap negara yang dikunjungi. Sayangnya, saya bukan pecinta sejarah, apalagi politik. Jika sebaliknya, mungkin saya dapat tertawa lebih keras atau mengernyit lebih dalam sambil menyaksikan petualangan Allan muda. Akan tetapi, saya tetap dapat menikmatinya dengan baik.

Selain plot yang menarik, buku ini juga sarat akan kritik sosial. Kritik terhadap badan hukum, birokrasi negara, idealisme politik hingga budaya. Kritik yang disampaikan dengan sangat halus oleh penulisnya Jonas Jonasson sehingga saya hampir tidak menyadarinya.
Sering kali politik tidak hanya tidak penting, tetapi juga terlalu rumit untuk alasan yang tidak penting (hlm. 461).
Di bagian akhir cerita, Jonasson juga sempat menyinggung negara kita Indonesia, dengan segala macam 'kesederhanaan' birokrasi dan budaya 'anti-korupsi' yang dimilikinya. Sebagai orang Indonesia, saya merasa ditampar dengan sindiran-sindiran yang disampaikan oleh Jonasson melalui karakter Allan. Contohnya saat Allan dan teman-temannya kesulitan untuk mengurus izin penerbangan yang akan membawa mereka berlibur di Bali bersama Sonya, si gajah ilegal. Setelah mengetahui bahwa penerbangan Swedia dan Jerman membutuhkan izin dan prosedur yang begitu rumit, termasuk melibatkan dokter hewan yang harus memastikan bahwa setiap hewan yang dibawa tetap sehat sampai tujuan, mereka pun menyerah dan menggunakan salah satu jasa penerbangan dari Indonesia. Sebagaimana yang tergambar dalam dua kutipan berikut ini:
Perusahaan itu berjanji akan mengatur semua surat-surat untuk pendaratan di Swedia, sementara mengatur izin pendaratan di Bali menjadi tanggung jawab pelanggan. Dokter hewan? Untuk apa? (hlm. 480)
"Jangan khawatir," kata Allan dan mengambil alih. "Halo? Apa ini bandara Bali?" ... "Nama saya Dolar," kata Allan. "Seratus Ribu Dolar." (hlm. 482)
Akan tetapi, bukannya membuat marah, sindiran-sindiran tsb justru membuat saya ingin terbahak. Selihai itulah Jonasson mengemas kritik sosial sehingga membuat kita menertawai kebodohan kita sendiri, alih-alih merasa tersinggung.

Cerita The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared ditutup dengan kesimpulan mengenai perjalanan seratus tahun Allan sampai sesaat sebelum ia memutuskan untuk menginjakkan kaki di luar Rumah Lansia pada hari ulang tahunnya yang seabad serta sedikit penggambaran mengenai kehidupannya selepas huru-hara menghilangnya ia dari Rumah Lansia. Bagi saya, bagian ini juga menarik karena membacanya terasa seperti sedang menenggak sebotol minuman dingin setelah seharian berlari dikejar anjing.

Saya mengacungi jempol untuk kejeniusan sang penulis dalam mengolah kisah kakek tua yang menghilang di ulang tahunnya yang ke-100 ini. Tidak heran jika buku ini berhasil meraih predikat international bestseller. Meskipun begitu, ada satu hal yang membuat saya tidak dapat memberikan buku ini nilai sempurna yakni bagian penyelesaian terhadap kasus menghilangnya Allan dari panti jomponya--yang kemudian diikuti dengan serangkaian kisah lainnya. Setelah disuguhi ledakan-ledakan dahsyat sepanjang cerita, saya sebenarnya mengharapkan sesuatu yang lebih dramatis atau setidaknya lebih logis daripada sekedar penyelesaian sederhana dan bahkan cenderung konyol untuk kasus tersebut. Di bagian ini, saya merasa agak bosan sampai sempat beberapa kali meletakkan buku dan memilih membaca buku lain atau melakukan aktivitas yang lainnya.

Akan tetapi, terlepas dari kekurangan tersebut, bagi saya buku ini benar-benar ajaib dan patut diacungi dua jempol. Sungguh 500 halaman yang tidak sia-sia.





Selasa, 10 November 2015

Buku dan Seleraku

I’m back!
Selama setahun belakangan ini, saya merasa benar-benar tidak punya waktu untuk meng-update blog. Nah, mumpung sekarang punya banyak waktu luang (sangat banyak, malah), let’s catch up a little bit!

Sekarang saya mengisi waktu luang dengan membaca, setelah menyadari bahwa saya sebenarnya sungguh-sungguh suka baca—walaupun bacanya sering kali pilih-pilih dan yang saya suka kebanyakaan ga ada isinya alias kurang bermanfaat (kalau bukan ga ada sama sekali). Beberapa tahun terakhir ini, saya menikmati sekali genre young adult contemporary atau buku remaja kontemporer—saya juga kurang yakin sih, young adult itu bisa diterjemahkan sebagai remaja atau tidak karena artinya tidak benar-benar sama dengan remaja (teenagers), menurut pemahaman saya. Kebanyakan buku yang saya baca adalah ebook-ebook berbahasa Inggris yang bertebaran bebas di internet  (hehehe...). Tetapi, selama sebulan terakhir saya mulai menjajaki novel-novel kontemporer populer karya penulis-penulis dalam negri, seperti Ika Natassa, Dahlian, atau Sitta Karina.

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca novel-novel (pinjaman :D) tersebut  adalah saya menikmati membacanya, tetapi tidak sampai pada tahap menyukainya. Sebenarnya dulu, sewaktu SMP saya juga sering membaca novel-novel teenlit dalam negri (teenlit terjemahan juga sih, tetapi lebih suka yang dalam negri), genre yang sepertinya saat itu cukup ngetren. Dan otak abege saya terpesona dengan kebanyakan cerita romantis yang mudah ditebak alias predictable tersebut. Lalu, kenapa sekarang reaksinya lain? Apa mungkin karena buku-buku yang sekarang saya baca adalah buku orang dewasa dengan tema, permasalahan dan karakter orang dewasa? Itu bisa jadi salah satu alasannya. Karena kadang saya mencoba mencicipi buku-buku berkategori new adult atau adult, apabila sedang bosan dengan kebanyakan buku yang biasa saya baca dan hasilnya, kategori young adult tetap jadi juara buat saya. Akan tetapi, setelah lebih dari lima buku roman kontemporer karya penulis dalam negri saya lahap belakangan ini, saya pun menyadari apa yang membuat saya tidak bisa jatuh cinta pada novel-novel romantis tersebut. Saya punya ekspektasi yang berbeda terhadap penulis-penulis lokal ini. Ekspektasi itu berupa nilai.

Kalau bicara soal buku-buku luar, terlepas dari apakah kategorinya adult, new adult, atau young adult, saya paling tidak tahan membaca novel-novel roman yang menceritakan kisah tentang tokoh utama yang melakukan perselingkuhan. It just doesn’t feel right, no matter what the circumstance is. Menurut saya tidak ada pembenaran akan hal itu, jadi saya pasti langsung malas meneruskan baca kalau ceritanya menjurus ke arah situ. Tetapi berhubung buku-buku tersebut berlatar belakang budaya Barat, saya semacam menutup mata atau tidak peduli jika ada nilai-nilai seperti seks bebas, menjalin hubungan fisik tanpa ikatan yang jelas (seperti no string attached atau friends with benefits, atau apalah sebutannya), tidak akur atau tidak sopan terhadap orang tua, dan lain sebagainya. Karena menurut saya, budaya mereka begitu, jadi mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.

Lain halnya dengan novel-novel roman dalam negri. Saya mengharapkan nilai-nilai tertentu yang bagi saya perlu dimunculkan untuk membedakan apakah saya sedang baca buku karya penulis Indonesia dengan latar belakang budaya kita atau sedang membaca buku-buku terjemahan. Saya tidak mengharapkan yang muluk-muluk, toh saya juga bukan penikmat buku-buku sastra kelas berat seperti novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer atau Putu Wijaya (yang menurut saya pribadi sih, buku-buku mereka termasuk bacaan berat hehe...). Ekspektasi semacam ini lah yang membuat saya lebih menyukai buku-buku karya Andrea Hirata yang syarat dengan budaya Melayu, atau buku Dilan karya Pidi Baiq—yang baru-baru ini diterbitkan—yang walaupun isinya sangat ringan, hampir setiap scenenya terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Bisa jadi ini cuma soal perbedaan selera atau mungkin memang ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar soal perbedaan selera. Toh, buku-buku tersebut tetap laris manis terjual. Yang paling penting, saya berharap dunia sastra indonesia semakin berkembang dan semakin banyak penulis-penulis berbakat yang akan meramaikan toko buku-toko buku kita. Mungkin suatu hari saya bisa jadi salah satunya? :D