Hari Sabtu, tanggal 5 Desember 2015, saya ikut serta dalam Workshop bertajuk Creative Writing: Jadikan Keunikanmu Sebuah Karya yang diisi oleh beberapa pembicara dari Bukune. Workshop ini membahas tentang bagaimana kita dapat mulai untuk menulis dari tema sehari-hari yang dekat dengan kehidupan kita dan/atau mengenai apa yang benar-benar kita ketahui. Sebagaimana yang biasa diucapkan oleh Raditya Dika--salah satu penulis 'gacoan' Gagas Media, penerbit yang masih satu grup dengan penerbit Bukune, salah satu pembicara yang merupakan editor Bukune ini (saya lupa namanya) juga mengatakan bahwa tulislah apa yang menjadi kegelisahan kita. Karena bisa jadi, kegelisahan kita merupakan kegelisahan banyak orang juga. Sebagaimana judulnya, "Jadikan Keunikanmu Sebuah Karya", workshop ini memotivasi para peserta yang hadir untuk mulai menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Oleh karena itu, buku-buku yang dijadikan acuan pun buku-buku seperti Kambing Jantan, Skripshit, Tak Kemal Maka Tak Sayang, dan semacamnya. Workshop ini kental sekali dengan gaya anak muda dan banyak mengangkat buku-buku dengan tema yang ringan, kekinian, dan cenderung bertema komedi, seperti beberapa judul yang saya sebutkan sebelumnya.
Sayangnya, karena ada keperluan lain, saya tidak sempat menjelajahi IRF lebih jauh di hari pertama ini. Saya pun memutuskan untuk datang kembali di hari kedua dengan membawa 'bekal' delapan buah buku yang sudah lama tidak saya sentuh--atau bahkan belum sama sekali saya baca--untuk ditukar dalam acara Book Swap atau Tukar Buku.
Beruntungnya saya, tepat ketika saya tiba di lantai 7 di hari kedua Festival Pembaca Indonesia atau IRF (07/12), Book War baru saja akan dimulai. Meskipun tidak terlalu mengerti aturan mainnya (haha!), saya dengan sok tau ikut berdiri di sekitar meja panjang penuh buku-buku dan ikut berebut buku setelah aba-aba diberikan. Saat itu ada beberapa buku yang menjadi incaran saya, di antaranya buku Operation: Break the Cassanova's Heart terbitan Penerbit Haru dan buku cerita fiksi klasik Dracula karya Bram Stoker terbitan Gramedia. Sayangnya, buku-buku tersebut sudah lebih dulu menghilang sebelum saya sempat menyentuhnya, hiks...
Awalnya, saya hanya mengincar buku Operation: Break the Cassanova's Heart karena itu satu-satunya buku yang saya kenal dan cukup mencolok di antara tumpukan buku lainnya. Kemudian, tanpa sengaja saya melihat seorang panitia IRF membawa-bawa buku Dracula, buku yang sudah cukup lama saya incar karena saya tidak dapat menemukannya di toko buku mana pun--sepertinya sudah tidak diterbitkan lagi oleh Gramedia. Kebetulan sekali bukan? Akhirnya saya pun menggeser buku Operation: Break the Cassanova's Heart dari posisi pertama incaran buku saya. Akan tetapi, sayangnya, orang yang berhasil mendapatkan buku Drakula adalah seorang anak remaja perempuan di samping saya. Dan menyebalkannya lagi, reaksi yang dia berikan adalah, "Hah? Apaan nih? Dracula..." Zzzz... Padahal saya sudah lama mencari buku itu di berbagai toko buku :((
Yah, namanya juga belum rezeki. Tetapi, sebagai gantinya, saya berhasil mendapatkan buku Remedy karya Biondy Alfian yang awal tahun ini diterbitkan. Saya memang sudah penasaran dengan buku ini waktu dibahas oleh salah satu book blogger. Jadi, saya tidak kecewa-kecewa amat lah hehehe...
Selepas Book War, pengunjung diperbolehkan kembali melakukan Book Swap. Perbedaan Book Swap dengan Book War adalah di Book Swap tidak ada jangka waktu yang ditentukan, jadi kita bebas memilih tanpa harus terburu-buru dan saling berebut. Akan tetapi, di sesi Book War, sebelum Book War dimulai, panitia kan meletakkan beberapa buku 'emas' di atas meja. Buku-buku emas ini bisa berupa buku-buku yang baru diterbitkan dan masih terbungkus rapih atau bisa juga berupa buku-buku lama yang kondisinya masih bagus dan biasanya best seller atau cukup terkenal. Buku-buku emas inilah yang menjadi incaran dan diperebutkan para peserta Book War.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Your feedback is really appreciated :)