Memasuki pertengahan tahun, atau lebih tepatnya memasuki awal
bulan keenam, saya sadar telah mengalami banyak hal selama tahun 2014 ini.
Mulai dari awal karir yang ternyata ‘berakhir’ tidak begitu baik—hehehe...
(kenapa ketawa? Padahal seharusnya sedih nih)—sampai berita duka yang saya
terima yang hampir sejumlah dengan bulan yang sudah kita lewati di tahun 2014
ini.
Selama tahun 2014, saya mendapatkan banyak sekali berita
duka; dua di antaranya dari anggota keluarga dekat. Selain itu, di tahun ini
saya juga kehilangan salah seorang dosen favorit semasa di kampus dulu dan dua
orang teman saya masing-masing kehilangan ayah dan ibu mereka. Salah satu di
antara kedua teman ini adalah sahabat dekat semasa SMA dulu. Entah kenapa di
tahun ini berita duka seperti datang bertubi-tubi, seolah-olah tidak memberikan
saya waktu untuk bernapas barang sejenak, sebelum datang berita duka yang
lainnya. Ini mungkin salah satu paruh tahun dengan berita duka terbanyak yang
pernah saya alami selama lebih dari 20 tahun hidup. Akan tetapi, bagaimana pun,
masih ada pihak-pihak yang jauh lebih pantas untuk merasa sedih dan kehilangan
daripada saya.
Saya tidak mau mengumbar terlalu banyak mengenai hal sedih
ini karena selain merupakan hal yang bersifat pribadi, rasanya mengingat-ingat
semua kejadian tersebut hanya akan merobek luka yang belum benar-benar kering
(tsaaah, tapi ini beneran). Sebagaimana judul tulisan ini ‘vorbei ist vorbei’, yang lalu biarlah berlalu.
Semua orang yang pergi itu, meninggal dengan cara yang
normal; kesemuanya meninggal karena sakit, baik yang menahun atau yang mendadak.
Ada yang meninggal karena serangan jantung, dilarikan ke RS masih dalam keadaan
sadar, bisa bicara dan memberitahukan keadaannya ke kerabat terdekat, tetapi
kemudian setelah semalam di RS, ternyata beliau pergi. Ada yang sudah tahunan
menderita sakit, bolak-balik masuk RS sampai akhirnya di sakit yang terakhir,
ternyata Allah SWT sudah menetapkan saat itu sebagai waktu baginya untuk pergi.
Ada juga yang belum terlalu lama sakit dan sebelum meninggal sempat terlihat
cukup fit sampai kemudian kesehatannya drop dan ajal menjemput.
Terlepas dari semua itu, baik yang meninggal secara mendadak
ataupun yang memang sudah lama menderita penyakit tertentu, saya sadar bahwa,
sebagaimana kesehatan, waktu tidak bisa dibeli. Seseorang yang sakit karena
lanjut usia, dicekoki berbagai macam pil dan terapi kesehatan, kalau memang
belum ajalnya, tidak peduli seberapa lemah ia terlihat atau seberapa sering ia keluar-masuk
rumah sakit, ia akan tetap hidup. Lama sekali sampai Allah SWT menghendaki
sebaliknya. Begitu pun seorang pesakitan muda yang sudah mengeluarkan begitu
banyak biaya dan mencoba berbagai macam cara, kalau memang sudah ajal, mungkin
semua yang dilakukan itu hanya berfungsi sebagai ikhtiar sebagai seorang hamba
sekaligus, mungkin, usaha untuk ‘membayar rasa bersalah’ seluruh anggota
keluarga dan kerabat dekat karena pada dasarnya, sang empunya tubuh sudah tidak
tertolong lagi. Di situ lah letak tidak terbelinya waktu. Karena Allah SWT yang
punya kuasa. Atas tubuh kita, atas waktu yang kita punya, atas berhasil
tidaknya ikhtiar kita untuk tetap sehat dan/atau untuk menyembuhkan suatu
penyakit. Dan kalau sudah begitu, bukan lagi jadi soal apakah benar keputusan
sang dokter untuk mengambil atau tidak mengambil suatu tindakan tertentu,
terlambat atau tidaknya seseorang ditangani tim medis, atau tindakan begini dan
tindakan begitu yang seharusnya dilakukan orang-orang terdekat ketika seseorang
menunjukkan gejala yang berujung pada kondisi kritis.
Bagi saya, pembicaraan yang berulang-ulang mengenai kondisi
akhir seseorang sebelum ia pergi, penyesalan mengenai tindakan-tindakan yang
seharusnya diambil dan tidak diambil, atau atas sebab apa dan kesalahan siapa
sehingga orang tersebut tak tertolong, sebenarnya hanya merupakan salep luka
bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Anggota keluarga dan para kerabat dekat yang
terus-menerus membahas hal yang sama, dari satu lingkaran ke lingkaran yang
lain selama hari-hari awal kepergiannya, selain merupakan bentuk kesedihan dan
kehilangan, menurut yang pernah saya alami dan rasakan, juga merupakan pengikis
rasa bersalah mereka atas sesuatu yang tidak bisa mereka beli: waktu.
Seandainya dibawa ke RS lebih cepat, ditangani tim medis
lebih awal, mungkin si A bisa terselamatkan. Seandainya kami tidak menurutinya
untuk membolehkan ia makan ini dan makan itu, melakukan ini dan melakukan itu,
mungkin keadaannya tidak akan berakhir seperti ini. Seandainya ia tetap dirawat
intensif di RS sehingga ada yang 24 jam menjaganya, mungkin kami akan tau
ketika tubuhnya menunjukkan gejala begini dan begitu. Akan tetapi, saya percaya
bahwa ajal dan cara kita pergi meninggalkan dunia ini sudah ditulis oleh Yang
Berkuasa Atas Segalanya, jauh dari sebelum kita akhirnya harus menghadapi itu.
Dan semua pengandaian tadi kemudian hanya menjadi bentuk penyesalan dan rasa
bersalah karena bagaimana pun manusia tidak bisa menggeser ajal.
Tidak peduli apa yang kita usahakan atau apa yang seseorang
lakukan dan tidak lakukan, ia tetap akan mati di waktu yang sama, dengan cara
yang sama, jika Allah SWT sudah menghendakinya begitu. Oleh karena itu, hal
pertama yang harus kita lakukan atas kepergian orang-orang terdekat kita adalah
ikhlas. Kemudian tetap melanjutkan hidup sebagai orang baik, sambil terus
mendoakan supaya Dia menghendaki kita untuk berkumpul kembali di surga-Nya
nanti, tempat di mana tidak ada pembicaraan sia-sia dan tidak ada penyesalan.
Wallahua’lam.

