Kamis, 24 Desember 2015

[Resensi Buku] Perfect Scenario: Ketika Hati Mengkhianati Logika

 
Judul Buku: Perfect Scenario
Format Buku: Buku cetak, soft cover
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 280
 
"Dengar ya, kita harus pacaran!"
"HAH?"
"Mulai detik ini, lo pacar gue. Dan selama itu, lo ngga boleh jalan dengan cowok lain!"
"Eh, kamu kesurupan ya, tiba-tiba ngomong aneh begitu?!"
"Gue sadar seratus persen. Jadi dengar--"
"Sori, aku ngga mau!"
"Heh! Jangan ge-er dulu. Gue sebenarnya juga ngga mau pacaran sama lo. Tapi kali ini, mau ngga mau, kita harus!"

Ajakan kencan ini akan membahagiakan Finda, seandainya ia menyukai Farel. Seandainya Farel bukan duri dalam dagingnya. Seandainya Finda tidak menyukai Niko (teman baik Farel). Dan seandainya Farel tidak sedang berkencan dengan Novi. Tetapi, ajakan kencan jauh dari romantis yang disodorkan Farel ini harus diterima Finda karena mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu membatalkan pernikahan orangtua mereka!
  
 
Ini merupakan pengalaman pertama saya membaca buku Kezia Evi Wiadji. Sebelumnya, nama penulis ini sudah cukup sering saya lihat berseliweran di blog-blog buku favorit saya. Akan tetapi, buku yang dibahas pada saat itu adalah Unbroken Vow. Sayangnya, karena saya sedang tidak begitu tertarik dengan tema-tema seputar pernikahan, apalagi kelihatannya Unbroken Vow bergenre melodrama, saya pun memutuskan untuk pas. Barulah ketika saya melihat nama penulis ini kembali berseliweran di dunia maya melalui buku terbarunya yang bergenre teenlit atau young adult, Perfect Scenario, tanpa berpikir panjang saya langsung mampir ke toko buku online terdekat.
 
Perfect Scenario bercerita tentang dua anak SMA Harapan Bangsa, Finda dan Farel yang merupakan teman sejak kecil dan tinggal bertetanggaan. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di komplek perumahan Finda, Farel yang pada saat itu baru pindah rumah dan menjadi tetangga baru Finda, langsung membuat onar dengan meminjam paksa sepeda baru Finda. Sepeda mini berwarna merah muda yang menjadi hadiah ulang tahunnya pada hari itu. Semenjak perebutan paksa sepeda milih Finda itulah mereka menjadi musuh bebuyutan yang melempar kejailan terhadap satu sama lain dan saling membalas dendam. Semakin lama semakin tidak jelas siapa yang lebih dulu memulai, siapa yang sebenarnya salah, dan siapa biang keroknya. Yang jelas, orang-orang di sekitar mereka kemudian melihat mereka bagaikan Tom and Jerry. Lalu pada suatu hari di sekolah, tiba-tiba saja Farel mencegat Finda yang berniat masuk ke toilet dan mengutarakan rencananya, atau lebih tepatnya memaksakan rencananya agar mereka berpura-pura pacaran. Sebagai musuh bebuyutan, tentu saja Finda menolak. Dibayar pun dia tidak akan sudi menjadi pacar laki-laki iseng tidak berperasaan itu, huh!
 
Akan tetapi, setelah Farel mengutarakan alasan dibalik skenario pacaran tersebut, Finda menjadi goyah. Kedua orang tua mereka akan menikah dan itu berarti Finda dan Farel akan menjadi saudara tiri. Sekedar berpapasan dengan laki-laki sok kegantengan itu setiap hari di sekolah saja sudah membuat kepalanya pusing, apalagi harus menjadi saudara tiri dan tinggal satu rumah? Bisa-bisa ia harus waspada 24 jam menghadapi keusilan-keusilan 'kakak tiri'-nya tersebut. Dengan pertimbangan ini, ditambah dengan bagaimana ia menyaksikan sendiri gelagat Mamanya yang tiba-tiba mengadakan makan malam antara kedua keluarga, keluarga Finda dan keluarga Farel, dengan agak ragu-ragu Finda pun mengamini ajakan Farel. Akan tetapi dengan satu syarat, apabila Farel bisa dengan seenaknya melarang-larang Finda jalan dengan cowok lain demi mendukung kelancaran skenario ini, Farel juga harus berkomitmen terhadap hubungan pura-pura mereka. Farel harus memutuskan pacarnya yang sekarang, Novi dan tidak jalan dengan cewek mana pun selama mereka berdua masih berstatus 'pacaran'.
 
Skenario pacaran mereka pun berjalan canggung, sebagaimana yang sudah diprediksikan Finda. Meskipun enggan, Finda terpaksa menurut untuk diantar-jemput ke sekolah oleh Farel serta menyembunyikan cakarnya dan bersikap manis terhadap Farel di depan kedua orang tua mereka. Meskipun awalnya skenario mereka berjalan dengan cukup lancar, Farel dibuat pusing oleh Novi yang dari awal memang sudah tidak setuju dan merasa rencana Farel ini benar-benar konyol. Novi dan Farel harus break hanya demi menjalankan skenario tidak jelas ciptaan Farel ini. Untuk meredam amarah kekasihnya yang mulai rewel, Farel akhirnya memutuskan untuk tetap menemui Novi diam-diam dan bahkan jalan dengannya tanpa sepengetahuan sang 'pacar'. Sementara itu, Finda juga dibuat bingung oleh kehadiran Niko, teman baik Farel sekaligus laki-laki yang ditaksirnya, yang semakin hari semakin sering muncul dalam kehidupannya, justru setelah ia memutuskan untuk ikut serta dalam skenario Farel. Di satu sisi ia ingin berkomitmen dengan 'hubungan'-nya dengan Farel, tetapi di sisi lain, ia tidak dapat  menolak Niko yang sepertinya mulai menunjukkan ketertarikan padanya.
 
Dengan adanya Novi dan Niko di tengah-tengah hubungan mereka, hubungan pura-pura antara Finda dan Farel menjadi semakin rumit. Mereka sepakat untuk melanjutkan skenario ini, tetapi dengan syarat dicabutnya larangan bagi Finda untuk berjalan dengan siapa pun karena toh selama ini Farel juga ternyata diam-diam tetap menemui Novi. Aturan baru tersebut membuat hubungan antara Finda dan Niko semakin hari semakin mengalami kemajuan. Finda pun mulai yakin bahwa Niko memang benar memiliki perasaan terhadapnya. Sampai akhirnya, libur tahun baru tiba dan keluarga Farel serta keluarga Finda--minus Dino, adik Finda yang sedang ada acara sekolah di luar kota--berlibur ke Lembang. Lagi-lagi demi menyukseskan skenarionya ini, Farel kembali menyeret Finda untuk ikut ke Lembang sehingga Finda terpaksa harus membatalkan rencana tahun baruan bersama sahabatnya, Olly. Di Lembang inilah hubungan Finda dan Farel membaik. Sekembali dari Lembang, Finda menyadari bahwa Farel yang selama ini ia kenal sebagai lelaki usil dan tidak berperasaan bukanlah diri Farel yang seutuhnya. Masih ada sisi-sisi lain dari Farel yang baru ia lihat. Semenjak itu, ia melihat Farel seperti orang yang berbeda dan ia merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali melihatnya. Perasaan apakah itu? Lalu bagaimana dengan Niko?
 
Ledakan kembang api silih berganti di langit, sementara terjadi ledakan di hati keduanya. (hlm. 184)
 
Apakah yang terjadi di Lembang, yang membuat hubungan keduanya menjadi baik? Apakah Finda akhirnya menyukai Farel? Ataukah dia lebih memilih Niko? Dan kalau memang ternyata Farel juga menyukai Finda, apa yang terjadi dengan hubungan antara ia dan Novi? Lalu, bagaimana dengan Mama Finda dan Papa Farel yang berencana menikah? Kalau penasaran, buruan baca Perfect Scenario!
 
Sebagai penikmat buku-buku bergenre young adult, meskipun saya terbiasa menikmati buku-buku remaja karya penulis-penulis luar, saya merasa puas telah membaca buku karya penulis dalam negri satu ini. Saya bahkan berhasil melahapnya dalam kurun waktu kurang dari satu hari. Tema cerita yang ringan, tetapi dikemas dengan plot yang cukup berbobot, membuat saya betah membaca halaman demi halaman tanpa diinterupsi dengan kegiatan membaca buku lainnya. Di bagian awal buku, dialog-dialog witty antara Finda dan Farel sukses membuat saya senyam-senyum sendiri. Benar-benar khas remaja yang suka beradu mulut tentang hal-hal sepele.
 
Untuk ukuran buku teenlit, novel ini sebenarnya cukup tebal. Tetapi tenang saja, plot yang mengalir tidak akan membuat kamu bosan, justru malah bikin penasaran. Karakter-karakter dan adegan-adegan yang dibuat di dalamnya pun manusiawi dan realistis, tidak berlebihan dan tidak terlalu 'sinetron'. Inilah yang saya sukai dari buku ini. Karena tujuan pasarnya adalah remaja, buku ini tidak mencoba menyajikan nilai-nilai yang kurang pantas apabila ditiru oleh para pembacanya. Tidak seperti sinetron-sinetron kekinian yang kerap menggambarkan hedonisme berlebihan, bullying, menjelek-jelekkan orang lain, atau hubungan dengan lawan jenis yang kelewat batas, Perfect Scenario menurut saya merupakan novel yang cukup bersih dari nilai-nilai semacam itu. Walaupun harus saya akui, terdapat satu karakter yang menurut saya cukup 'sinetron', yakni karakter tokoh antagonis, Novi kekasih Farel, yang melampiaskan kecemburuannya terhadap Finda dengan cara-cara yang 'luar biasa'. Meskipun begitu, sebagai remaja dengan emosi yang meluap-luap, karakter Novi masih bisa dikatakan termasuk dalam kategori 'masuk akal' sehingga tidak akan membuat kamu ingin menjambak-jambak rambut karena kehadirannya.
 
Selain menggambarkan kisah romansa segi empat antara Novi - Farel - Finda - Niko, novel ini juga mengangkat kisah pertemanan antara Olly dan Finda, dengan Olly menjadi semacam dokter cinta bagi Finda, serta antara Farel dan Niko yang memperebutkan perempuan yang sama walaupun mereka merupakan teman baik. Kehadiran Olly dan Niko menjadi penyemarak tersendiri bagi novel ini. Wajar saja jika kemudian terdapat pembaca yang lebih menyukai karakter Olly dan/atau Niko dibandingkan dengan karakter-karakter utamanya. Keduanya seolah mengingatkan kita, seberat apapun masalah yang kita hadapi, teman sejati tidak akan pernah pergi. Apalagi untuk remaja, yang cara berpikir dan cara berkomunikasinya berbeda dengan orang dewasa, kehadiran teman merupakan sesuatu yang sangat berarti.
 
Karena saking asyiknya dibuai oleh plot dan karakter-karakternya, saya hampir tidak memiliki komplain untuk buku ini, baik dari segi penggunaan bahasa, maupun typo yang nyaris tidak ada--entah memang tidak ada atau karena saya terlalu asyik mengikuti ceritanya, entahlah. Nyaris tidak ada typo, kecuali untuk satu typo di halaman 234 di bagian akhir bab 25. Kalimat yang belum selesai di bagian akhir bab 25, kemudian di halaman selanjutnya langsung disambung oleh awal bab 26 sehingga kita tidak bisa mengetahui apa maksud dari kalimat terakhir di bab 25 tersebut.
 
Terlepas dari typo yang bersifat minor itu, Perfect Scenario ini benar-benar buku yang menghibur :)
 
Selamat membaca!

Minggu, 20 Desember 2015

Indonesia Readers Festival 2015: Percobaan Perdana Datang ke IRF

Tanggal 5-6 Desember kemarin, Goodreads Indonesia mengadakan Indonesia Readers Festival atau Festival Pembaca Indonesia yang ke-6 kalinya. Acara ini diselenggarakan di Synthesis Tower 2, Pancoran, Jakarta Selatan. Berhubung lokasinya tidak jauh dari rumah saya, saya pun memutuskan untuk mengalokasikan weekend saya agar bisa mampir ke acara ini. Saya tau info mengenai acara ini melalui komunitas Goodreads Indonesia di situs goodreads.com, yang baru saya join beberapa bulan yang lalu. Ini merupakan kali pertamanya saya datang ke acara IRF (Indonesia Readers Festival), dan saya agak menyesal, kenapa acara sehebat ini baru saya ketahui sekarang? Ke saja mana saya 5 IRF sebelumnya?

Hari Sabtu, tanggal 5 Desember 2015, saya ikut serta dalam Workshop bertajuk Creative Writing: Jadikan Keunikanmu Sebuah Karya yang diisi oleh beberapa pembicara dari Bukune. Workshop ini membahas tentang bagaimana kita dapat mulai untuk menulis dari tema sehari-hari yang dekat dengan kehidupan kita dan/atau mengenai apa yang benar-benar kita ketahui. Sebagaimana yang biasa diucapkan oleh Raditya Dika--salah satu penulis 'gacoan' Gagas Media, penerbit yang masih satu grup dengan penerbit Bukune, salah satu pembicara yang merupakan editor Bukune ini (saya lupa namanya) juga mengatakan bahwa tulislah apa yang menjadi kegelisahan kita. Karena bisa jadi, kegelisahan kita merupakan kegelisahan banyak orang juga. Sebagaimana judulnya, "Jadikan Keunikanmu Sebuah Karya", workshop ini memotivasi para peserta yang hadir untuk mulai menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Oleh karena itu, buku-buku yang dijadikan acuan pun buku-buku seperti Kambing Jantan, Skripshit, Tak Kemal Maka Tak Sayang, dan semacamnya. Workshop ini kental sekali dengan gaya anak muda dan banyak mengangkat buku-buku dengan tema yang ringan, kekinian, dan cenderung bertema komedi, seperti beberapa judul yang saya sebutkan sebelumnya.

Sayangnya, karena ada keperluan lain, saya tidak sempat menjelajahi IRF lebih jauh di hari pertama ini. Saya pun memutuskan untuk datang kembali di hari kedua dengan membawa 'bekal' delapan buah buku yang sudah lama tidak saya sentuh--atau bahkan belum sama sekali saya baca--untuk ditukar dalam acara Book Swap atau Tukar Buku.

Beruntungnya saya, tepat ketika saya tiba di lantai 7 di hari kedua Festival Pembaca Indonesia atau IRF (07/12), Book War baru saja akan dimulai. Meskipun tidak terlalu mengerti aturan mainnya (haha!), saya dengan sok tau ikut berdiri di sekitar meja panjang penuh buku-buku dan ikut berebut buku setelah aba-aba diberikan. Saat itu ada beberapa buku yang menjadi incaran saya, di antaranya buku Operation: Break the Cassanova's Heart terbitan Penerbit Haru dan buku cerita fiksi klasik Dracula karya Bram Stoker terbitan Gramedia. Sayangnya, buku-buku tersebut sudah lebih dulu menghilang sebelum saya sempat menyentuhnya, hiks...

Awalnya, saya hanya mengincar buku Operation: Break the Cassanova's Heart karena itu satu-satunya buku yang saya kenal dan cukup mencolok di antara tumpukan buku lainnya. Kemudian, tanpa sengaja saya melihat seorang panitia IRF membawa-bawa buku Dracula, buku yang sudah cukup lama saya incar karena saya tidak dapat menemukannya di toko buku mana pun--sepertinya sudah tidak diterbitkan lagi oleh Gramedia. Kebetulan sekali bukan? Akhirnya saya pun menggeser buku Operation: Break the Cassanova's Heart dari posisi pertama incaran buku saya. Akan tetapi, sayangnya, orang yang berhasil mendapatkan buku Drakula adalah seorang anak remaja perempuan di samping saya. Dan menyebalkannya lagi, reaksi yang dia berikan adalah, "Hah? Apaan nih? Dracula..." Zzzz... Padahal saya sudah lama mencari buku itu di berbagai toko buku :((
Yah, namanya juga belum rezeki. Tetapi, sebagai gantinya, saya berhasil mendapatkan buku Remedy karya Biondy Alfian yang awal tahun ini diterbitkan. Saya memang sudah penasaran dengan buku ini waktu dibahas oleh salah satu book blogger. Jadi, saya tidak kecewa-kecewa amat lah hehehe...

Selepas Book War, pengunjung diperbolehkan kembali melakukan Book Swap. Perbedaan Book Swap dengan Book War adalah di Book Swap tidak ada jangka waktu yang ditentukan, jadi kita bebas memilih tanpa harus terburu-buru dan saling berebut. Akan tetapi, di sesi Book War, sebelum Book War dimulai, panitia kan meletakkan beberapa buku 'emas' di atas meja. Buku-buku emas ini bisa berupa buku-buku yang baru diterbitkan dan masih terbungkus rapih atau bisa juga berupa buku-buku lama yang kondisinya masih bagus dan biasanya best seller atau cukup terkenal. Buku-buku emas inilah yang menjadi incaran dan diperebutkan para peserta Book War.



Daaaaaaan, inilah delapan buku hasil Book Swap + Book War di IRF 2015 kemarin. Sayangnya, karena terburu-buru, saya lupa memfoto buku-buku saya sebelum ditukarkan. Walaupun awalnya saya ikut-ikutan tanpa benar-benar tau aturan mainnya, Book War ini merupakan pengalaman baru sangat yang menyenangkan. Tahun depan, semoga bisa ikutan lagi :D