Senin, 12 Mei 2014

If One were to Stay Forever


Lulus sekolah dan lulus kuliah, pindah rumah, resign dari tempat kerja, kehilangan salah satu anggota keluarga, kita pasti pernah merasakan setidaknya salah satu dari beberapa hal tersebut. Kehilangan seseorang memang tidak pernah mudah. Kalau kata Peter Pan, “I want to live forever”. Well, (un)fortunately, we won’t. Semua dari kita pasti akan mati, tinggal menunggu gilirannya saja.

Saya sudah pernah mengalami bagaimana ‘patah hati’-nya kehilangan om, tante, kakek, dan nenek saya. Kehilangan seseorang yang kita pikir kita akan selamanya bersama dia, memang sama sekali tidak mudah. Dan hari ini, giliran kami keluarga ISJ kehilangan salah satu dosen tercinta. Salah satu dosen yang sangat cerdas tetapi juga sangat baik, sangat tidak pelit ilmu, sangat mengemong mahasiswa-mahasiswanya, bahkan sampai setelah beliau mengundurkan diri dari posisi sebagai dosen karena alasan kesehatan. Meskipun sudah keluar, beliau masih rela meluangkan waktunya, setiap kali dimintakan bantuan terkait skripsi dan tugas-tugas kuliah para mahasiswanya. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, dan menerima semua amal ibadahnya. Amin...

Vielen Dank für alles, unsere geliebte Dozentin. Sie sind eine der nettesten Dozentinnen, die ich je gekannt habe. Wir haben Sie sehr Lieb, Frau Avi.



Kejadian ini kembali mengingatkan saya bahwa kita tidak selamanya di dunia, sebagaimana yang diinginkan Peter Pan. Dan karena kita hidup cuma sekali, semoga kita bisa memaksimalkan kebermanfaatan kita terhadap orang lain, setidaknya untuk orang-orang di sekitar kita.