Lulus sekolah dan lulus kuliah, pindah rumah, resign dari tempat
kerja, kehilangan salah satu anggota keluarga, kita pasti pernah merasakan
setidaknya salah satu dari beberapa hal tersebut. Kehilangan seseorang memang
tidak pernah mudah. Kalau kata Peter Pan, “I want to live forever”. Well,
(un)fortunately, we won’t. Semua dari kita pasti akan mati, tinggal menunggu
gilirannya saja.
Saya sudah pernah mengalami bagaimana ‘patah hati’-nya
kehilangan om, tante, kakek, dan nenek saya. Kehilangan seseorang yang kita
pikir kita akan selamanya bersama dia, memang sama sekali tidak mudah. Dan hari
ini, giliran kami keluarga ISJ kehilangan salah satu dosen tercinta. Salah satu
dosen yang sangat cerdas tetapi juga sangat baik, sangat tidak pelit ilmu,
sangat mengemong mahasiswa-mahasiswanya, bahkan sampai setelah beliau
mengundurkan diri dari posisi sebagai dosen karena alasan kesehatan. Meskipun
sudah keluar, beliau masih rela meluangkan waktunya, setiap kali dimintakan
bantuan terkait skripsi dan tugas-tugas kuliah para mahasiswanya. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, dan menerima semua amal
ibadahnya. Amin...
Vielen Dank für alles, unsere geliebte Dozentin. Sie sind
eine der nettesten Dozentinnen, die ich je gekannt habe. Wir haben Sie sehr
Lieb, Frau Avi.
Kejadian ini kembali mengingatkan saya bahwa kita tidak
selamanya di dunia, sebagaimana yang diinginkan Peter Pan. Dan karena kita
hidup cuma sekali, semoga kita bisa memaksimalkan kebermanfaatan kita terhadap
orang lain, setidaknya untuk orang-orang di sekitar kita.
