Kisah Kakek Tua Yang Mengubah (Pandangan Kita Terhadap) Dunia
Sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya pernah mendapatkan pembahasan mengenai buku Ich bin kein Berliner: eine Reisefuehrer fuer faule Touristen (Saya Bukan Orang Berlin: Sebuah Panduan Perjalanan untuk Turis-Turis Malas) karya imigran asal Rusia yang menetap di Jerman Vladimir Kaminer. Buku tersebut merupakan karya satir mengenai budaya dan orang-orang Jerman pada umumnya dan Berlin pada khususnya. Kata-kata "Ich bin kein Berliner" sendiri merupakan plesetan dari kutipan pidato Presiden AS John F. Kennedy di Jerman Barat pada 26 Juni 1963: "Ich Bin Ein Berliner"(x). Ich bin kein Berliner menceritakan dengan baik apa yang akan kita akan temukan dan rasakan sebagai orang asing di Jerman, baik hal-hal yang positif, maupun hal-hal yang negatif. Akan tetapi, sindiran-sindiran terhadap budaya Jerman dalam karya ini dikemas dengan begitu halus dan lucu sehingga bukan hanya turis asing yang datang atau imigran yang tinggal di Jerman, orang asli Jerman pun menikmati buku ini, menertawakan kebodohan dan keanehan mereka sendiri di mata orang asing. Sehingga buku ini pun laku terjual dan berhasil menjadi buku saku bestseller. Itulah yang juga saya rasakan saat membaca The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared.
Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared
Format: Buku cetak, soft cover
Penulis: Jonas Jonasson
Penulis: Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halman: 508
Buku ini bercerita tentang Allan Karlson yang kabur dari panti jomponya Rumah Lansia melalui jendela, tepat di hari perayaan ulang tahunnya yang ke-100, yang akan dihadiri oleh walikota Malmkoeping dan diliput oleh surat kabar setempat. Berbekal uang seadanya dan pakaian yang menempel di badan, Allan memulai perjalanannya di kota kecil di Swedia tersebut. Perjalanan yang kemudian membawanya untuk bertemu dengan koper perak, geng penjahat amatiran, maling kecil-kecilan, penjual hotdog yang nyaris bangkrut, wanita berambut merah yang suka mengumpat hingga gajah ilegal. Perjalanan yang akan membuat Allan dicari oleh seisi kota sekaligus, mungkin, 'buronan' tertua sepanjang sejarah Swedia.
Selain cerita di atas, buku ini juga menceritakan secara flash back kisah Allan dari ia kecil hingga dewasa yang ternyata menyimpan banyak kejutan. Selama perjalanan hidupnya, Allan Karlson telah bertemu pemimpin-pemimpin dunia seperti Mao Tse Tung, Stalin, Harry S. Truman, dan Charles de Gaulle. Seiring dengan perjalanan cerita kita juga akan disuguhkan kisah petualangan ajaib dari Allan muda, mulai dari menyebrangi Himalaya sampai tertangkap dan dikurung di penjara di Teheran. Serangkaian petualangan yang ternyata melibatkannya dalam--dan bahkan menjadi dalang di balik--kisah-kisah penting dalam sejarah dunia. Saya tidak ingin membocorkan sinopsis cerita terlalu banyak karena hal itu dapat merusak keseruan dari buku ini. The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared merupakan novel yang minim dialog dan justru memiliki kekuatan pada plotnya. Kisah Allan muda seolah membawa saya berkeliling dunia sekaligus menyuguhi huru-hara politik di setiap negara yang dikunjungi. Sayangnya, saya bukan pecinta sejarah, apalagi politik. Jika sebaliknya, mungkin saya dapat tertawa lebih keras atau mengernyit lebih dalam sambil menyaksikan petualangan Allan muda. Akan tetapi, saya tetap dapat menikmatinya dengan baik.
Selain plot yang menarik, buku ini juga sarat akan kritik sosial. Kritik terhadap badan hukum, birokrasi negara, idealisme politik hingga budaya. Kritik yang disampaikan dengan sangat halus oleh penulisnya Jonas Jonasson sehingga saya hampir tidak menyadarinya.
Sering kali politik tidak hanya tidak penting, tetapi juga terlalu rumit untuk alasan yang tidak penting (hlm. 461).Di bagian akhir cerita, Jonasson juga sempat menyinggung negara kita Indonesia, dengan segala macam 'kesederhanaan' birokrasi dan budaya 'anti-korupsi' yang dimilikinya. Sebagai orang Indonesia, saya merasa ditampar dengan sindiran-sindiran yang disampaikan oleh Jonasson melalui karakter Allan. Contohnya saat Allan dan teman-temannya kesulitan untuk mengurus izin penerbangan yang akan membawa mereka berlibur di Bali bersama Sonya, si gajah ilegal. Setelah mengetahui bahwa penerbangan Swedia dan Jerman membutuhkan izin dan prosedur yang begitu rumit, termasuk melibatkan dokter hewan yang harus memastikan bahwa setiap hewan yang dibawa tetap sehat sampai tujuan, mereka pun menyerah dan menggunakan salah satu jasa penerbangan dari Indonesia. Sebagaimana yang tergambar dalam dua kutipan berikut ini:
Perusahaan itu berjanji akan mengatur semua surat-surat untuk pendaratan di Swedia, sementara mengatur izin pendaratan di Bali menjadi tanggung jawab pelanggan. Dokter hewan? Untuk apa? (hlm. 480)
"Jangan khawatir," kata Allan dan mengambil alih. "Halo? Apa ini bandara Bali?" ... "Nama saya Dolar," kata Allan. "Seratus Ribu Dolar." (hlm. 482)Akan tetapi, bukannya membuat marah, sindiran-sindiran tsb justru membuat saya ingin terbahak. Selihai itulah Jonasson mengemas kritik sosial sehingga membuat kita menertawai kebodohan kita sendiri, alih-alih merasa tersinggung.
Cerita The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared ditutup dengan kesimpulan mengenai perjalanan seratus tahun Allan sampai sesaat sebelum ia memutuskan untuk menginjakkan kaki di luar Rumah Lansia pada hari ulang tahunnya yang seabad serta sedikit penggambaran mengenai kehidupannya selepas huru-hara menghilangnya ia dari Rumah Lansia. Bagi saya, bagian ini juga menarik karena membacanya terasa seperti sedang menenggak sebotol minuman dingin setelah seharian berlari dikejar anjing.
Saya mengacungi jempol untuk kejeniusan sang penulis dalam mengolah kisah kakek tua yang menghilang di ulang tahunnya yang ke-100 ini. Tidak heran jika buku ini berhasil meraih predikat international bestseller. Meskipun begitu, ada satu hal yang membuat saya tidak dapat memberikan buku ini nilai sempurna yakni bagian penyelesaian terhadap kasus menghilangnya Allan dari panti jomponya--yang kemudian diikuti dengan serangkaian kisah lainnya. Setelah disuguhi ledakan-ledakan dahsyat sepanjang cerita, saya sebenarnya mengharapkan sesuatu yang lebih dramatis atau setidaknya lebih logis daripada sekedar penyelesaian sederhana dan bahkan cenderung konyol untuk kasus tersebut. Di bagian ini, saya merasa agak bosan sampai sempat beberapa kali meletakkan buku dan memilih membaca buku lain atau melakukan aktivitas yang lainnya.
Akan tetapi, terlepas dari kekurangan tersebut, bagi saya buku ini benar-benar ajaib dan patut diacungi dua jempol. Sungguh 500 halaman yang tidak sia-sia.

Kayaknya wajib baca yg ini :)
BalasHapusWatch box office