I’m back!
Selama setahun belakangan ini, saya merasa benar-benar tidak
punya waktu untuk meng-update blog.
Nah, mumpung sekarang punya banyak waktu luang (sangat banyak, malah), let’s
catch up a little bit!
Sekarang saya mengisi waktu luang dengan membaca, setelah
menyadari bahwa saya sebenarnya sungguh-sungguh suka baca—walaupun bacanya sering
kali pilih-pilih dan yang saya suka kebanyakaan ga ada isinya alias kurang bermanfaat
(kalau bukan ga ada sama sekali). Beberapa tahun terakhir ini, saya menikmati
sekali genre young adult contemporary
atau buku remaja kontemporer—saya juga kurang yakin sih, young adult itu bisa diterjemahkan sebagai remaja atau tidak karena
artinya tidak benar-benar sama dengan remaja (teenagers), menurut pemahaman saya. Kebanyakan buku yang saya baca
adalah ebook-ebook berbahasa Inggris yang bertebaran bebas di internet (hehehe...). Tetapi, selama sebulan terakhir saya
mulai menjajaki novel-novel kontemporer populer karya penulis-penulis dalam
negri, seperti Ika Natassa, Dahlian, atau Sitta Karina.
Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca novel-novel
(pinjaman :D) tersebut adalah saya
menikmati membacanya, tetapi tidak sampai pada tahap menyukainya. Sebenarnya dulu,
sewaktu SMP saya juga sering membaca novel-novel teenlit dalam negri (teenlit
terjemahan juga sih, tetapi lebih suka yang dalam negri), genre yang sepertinya
saat itu cukup ngetren. Dan otak abege saya terpesona dengan kebanyakan cerita romantis
yang mudah ditebak alias predictable tersebut. Lalu, kenapa sekarang reaksinya lain? Apa mungkin karena
buku-buku yang sekarang saya baca adalah buku orang dewasa dengan tema,
permasalahan dan karakter orang dewasa? Itu bisa jadi salah satu alasannya. Karena
kadang saya mencoba mencicipi buku-buku berkategori new adult atau adult,
apabila sedang bosan dengan kebanyakan buku yang biasa saya baca dan hasilnya, kategori
young adult tetap jadi juara buat
saya. Akan tetapi, setelah lebih dari lima buku roman kontemporer karya penulis
dalam negri saya lahap belakangan ini, saya pun menyadari apa yang membuat saya
tidak bisa jatuh cinta pada novel-novel romantis tersebut. Saya punya
ekspektasi yang berbeda terhadap penulis-penulis lokal ini. Ekspektasi itu
berupa nilai.
Kalau bicara soal buku-buku luar, terlepas dari apakah kategorinya
adult, new adult, atau young adult,
saya paling tidak tahan membaca novel-novel roman yang menceritakan kisah tentang tokoh
utama yang melakukan perselingkuhan. It just doesn’t feel right, no matter what the
circumstance is. Menurut saya tidak ada pembenaran akan hal itu, jadi saya pasti
langsung malas meneruskan baca kalau ceritanya menjurus ke arah situ. Tetapi berhubung
buku-buku tersebut berlatar belakang budaya Barat, saya semacam menutup mata atau
tidak peduli jika ada nilai-nilai seperti seks bebas, menjalin hubungan fisik
tanpa ikatan yang jelas (seperti no
string attached atau friends with
benefits, atau apalah sebutannya), tidak akur atau tidak sopan terhadap
orang tua, dan lain sebagainya. Karena menurut saya, budaya mereka begitu, jadi
mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
Lain halnya dengan novel-novel roman dalam negri. Saya mengharapkan
nilai-nilai tertentu yang bagi saya perlu dimunculkan untuk membedakan apakah
saya sedang baca buku karya penulis Indonesia dengan latar belakang budaya kita
atau sedang membaca buku-buku terjemahan. Saya tidak mengharapkan yang muluk-muluk, toh saya juga bukan penikmat buku-buku sastra kelas berat seperti novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer atau Putu Wijaya (yang menurut saya pribadi sih, buku-buku mereka termasuk bacaan berat hehe...). Ekspektasi semacam ini lah yang membuat saya lebih menyukai buku-buku karya Andrea Hirata yang syarat dengan budaya Melayu, atau buku Dilan karya Pidi Baiq—yang baru-baru ini diterbitkan—yang walaupun isinya sangat ringan, hampir setiap scenenya terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.
Bisa jadi ini cuma soal perbedaan selera atau mungkin memang ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar soal perbedaan selera. Toh, buku-buku tersebut tetap laris manis terjual. Yang paling penting, saya berharap dunia sastra indonesia semakin berkembang dan semakin banyak penulis-penulis berbakat yang akan meramaikan toko buku-toko buku kita. Mungkin suatu hari saya bisa jadi salah satunya? :D
Bisa jadi ini cuma soal perbedaan selera atau mungkin memang ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar soal perbedaan selera. Toh, buku-buku tersebut tetap laris manis terjual. Yang paling penting, saya berharap dunia sastra indonesia semakin berkembang dan semakin banyak penulis-penulis berbakat yang akan meramaikan toko buku-toko buku kita. Mungkin suatu hari saya bisa jadi salah satunya? :D
Halo, kamu menang 3 novel Bahasa Inggris dari koleksi pribadi saya
BalasHapushttp://glasses-and-tea.blogspot.co.id/2015/11/the-chapel-wars.html
Silakan e-mail ke martina.s.daruli@gmail.com nama, alamat, dan nomor telepon yang digunakan untuk pengiriman paket ya. Saya tunggu sampai tanggal 13 November 2015.